SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI SASTRA

16 May

BAB I

SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI SASTRA

 

Teoti sastra berasal dari kata theria(bahasa latin). Secara etimologis teori berarti kontemplasi terhadap kosmos dan realitas. Pada tataran yang lebih luas,dalam hubungannya dengan dunia keilmuan teori berarti perangkat penertian,konsep,proposisi yang mempunyai korelasi,yang telah teruji kebenarannya. Pada umumnya, teori dipertentangkan dengan praktik.setelah setelah suatu ilmu pengetahuan berhasil untuk mengabstraksikan keseluruhan konsepnya pada suatu rumusan ilmiah yang dapat diuji kebenarannya, yaitu teori itu sendiri,maka teori tersebut mesti dioperasikan secara praktis, sehingga cabang-cabang ilmu pengetahuan sejenis dapat dipahami secara lebih rinci dan mendalam.

Teori berfungsi untuk mengubah dan membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Menurut Fokkema dan Kumme-ibsch(1977:175), penelitian terhadap karya sastra pada umumnya memanfaatkan pada teori-teori yang sudah ada.tradisa seperti ini dianggap memiliki kelemahan sebagai akibat penyederhanaan,eklektisisme,dan penyimpulan yang salah. Keuntungan yang diperoleh jelas bahwa peneliti diberikan kemudahan,peneliti tinggal menguji kembali dan menyesuaikannya dengan sifat-sifat objek.kecenderungan ini disebabkan oleh beberapa kenyataan,sebagai berikut:

1. teori-teori yang sudah ada dengan sendirinya sudan teruji, yaitu melalui kritik sepanjang sejarahnya

2. teori dianggap sebagai unsure yang sangat penting, lebih dari semata-mata alat

3. belum terciptanya sikap-sikap percaya diri atas hasil-hasil penemuan sendiri, khususnya dalam bidang teori.

Secara genesis dengan demikian dalam proses penelitian teori,

diperoleh dua cara,yaitu:

1. peneliti memanfaatkan teori terdahulu, ada umumnya disebut sebagai teori formal, dengan pertimbangan bahwa teori tersebut secara formal sudah ada sebelumnya.teori formal seolah-olah bersifat deduksi dan apriori

2. peneliti memanfaatkan teori yang ditemukannya sendiri.teori yang diperoleh melalui manfaat,hakikat dan abstraksi data yang diteliti,pada umumnya disebut teori substansif sebab diperoleh melalui substansi data.

Kedua jenis reori masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kekurangannya adalah tidak adannya aktivitas untuk menemukan teori yang baru, sehingga tejadi stagnasi dalam bidang teori.kelemahan teori formal ini terpenuhi oleh usaha peneliti yang mencoba menemukan teori substansif.

Pemanfaatan teori formal menurut Vredenbreght, memiliki kelebihan dalam kaitannya dengan usaha peneliti sepanjang sejarahnya, untuk secara terus-menerus memperbaharui sekaligus mengujinnya melalui data yang berbeda-beda sehingga, teori makin lama makin sempurna. Teori ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang sastra diadopsi melalui pemikiran para sarjana barat. Tradisi seperti ini sering menimbulkan perdebatan diantara para sarjana Indonesia antara yang tidak setuju dengan yang setuju. Kelompk yang pertama menginginkan agar khasanah Indonesia dianalisis dengan menggunakan teori sastra Indonesia, dengan konsekuensi agar sarjana Indonesia dapat menemukan teori-teori sastra yang lahir melalui sastra Indonesia sebagai teori indonesia asli , sebaliknya yang kedua tidak mempermasalahkanperbedaan diantarannya, dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. tradisi ilmu pengetahuan berkembang dibarat,demikian pula tradisi sastra

2. karya sastra sekaligus bersifat local dan universal

3. globalisasi, termasuk paradigma postmodernisme menghapuskan perbedaan antara barat dengan timur.

Sebuah teori disebut baik apabila memilii sifat-sifat sebagai berikut:

1. mudah disesuaikan dengan cirri-ciri karya yang akan dianalisis

2. mudah disesuaikan dengan metode dan teori yang menyertainnya

3. dapat dimanfaatkan untuk menganalisis, baik ilmu sejenis maupun berbeda

4. memiliki formula-formula yang sederhana tetapi mengimplikasikan jaringan analisis yang kompleks

5. memiliki prediksi yang dapat menjangkau objek jauh kemasa depan

teori dan metode memiliki fungsi untuk membantu menjelaskan dua hubungan gejala atau lebih, sekaligus meramalan modol hubungan yang terjadi.

Teori dan metode disamping mempermudah memahami gejala yang akan diteliti yang lebih penting adalah kemampuannya untuk memotivasi,mengevokasi,sekaligua memodifikasi pikiran peneliti.artinya dengan memanfaatkan teori dan metode tertentu maka dalam pikiran pneliti akan timbul kemampuan untuk memahami gejala sebelumnya yang sama sekali belum tampak. Sebagai alat, teori berfungsi untuk mengarahkan suatu penelitian, sedangkan analisia secara langsung dilakukan melalui instrument yang lebih konkret yaitu melalui metode dan teknik.

Berbeda dengan objek, aspek kebaruan dalam teori dan metode merupakan syarat pokok.teori yang lama dengan sendirinya harus ditinggalkan, digantikan dengan teori dan metode yang baru.demikian seterusnya sehingga teori yang terakhirlah yang dianggap paling relevan. Intensitas terhadap kebaruan disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. teori dan metode adalah alat dan cara penelitian

2. teori dan metode adalah hasil penemuan

3. teori dan metode adalah ilmu pengetahuan

karya sastra sebagai objek penelitian, metode dan teori sebagai cara untuk meneliti, berkembang bersama-sama dalam kondisi yang saling melengkapi. Dalam khasanah sastra Indonesia aktivitas penelitian dengan memanfaatkan teori dan metode intuisif ekspresif sudah dimulai sejak periode pujangga baru.pesatnya erkembangan teori sastra selama satu abad sejak awal abad ke-20 hingga awal abad ke-21 dipicu oleh beberapa indikator, sebagai berikut:

1. medium utama sastra adalah bahasa, sedangkan dalam bahasa itu sendiri sudah terkandung problematika yang sangat luas

2. satra memasukkan berbagai dimensi kebudayaan, sedangkan dalam budaya itu sendiri juga sudah terkandung permasalahan yang sangat beragam

3. teori-teori utama dalam sastra sudah berkembang sejak zaman plato dan aristoteles, yang dengan sendirinya telah dimatangkan dengan berbagai disiplin, khususnya filsafat

4. kesulitan dalam memahami gejala sastra memicu para ilmuan untuk mnemukan berbagai cara sebagai teori yang baru

5. ragam sastra sangat banyak dan berkembang secara dinamis, kondisi-kondisi sastra yang juga memerlukan cara pemahaman yang berbeda-beda

dalam ilmu sastra yang dimaksudkan dengan penelitian adalah kegiatan untuk mengumpulkan data,menganalisis data,dan menyajikan hasil penelitian. Peneliti sastra yang pada umumnya disebut kritikus sastra baik sebelum maupun sesudah melakukan penelitian secara sadar mengetahui teori apa yang digunakan, metode dan teknik apa yang membantunya.penelitian sastra mempertimbangkan ciri-ciri sebagai berikut:

1. hipotesis dan asumsi tidak diperlukan sebab analisis bersifat deskripsi bukan generalisasi

2. populasi dan sample tidak mutlak diperlukan kecuali dalam penelitian tertentu

3. tidak diperlukan objektivitas yang umumsebab peneliti terlibat secara terus-menerus, objectivitas terjadi saat penelitian dilakukan

4. kerangka penelitian tidak bersifat tertutup, korpus data bersifat terbuka deskripsi dan pemahaman berkembang terus

5. objek yang sesungguhnya bukanlah bahasa tapi wacana,teks,sebab sebagai hakikat deskrusif bahasa sudah terikat dengan system model kedua dengan berbagai system komunikasinya

 

BAB II

PARADIGMA PENELITIAN SASTRA

 

Secara etimologis paradigma berasal dari bahasa latin(paradigma), berarti contoh,model,pola. Secara luas paradigma berarti seperangkat keyakinan mendasar pandangan dunis yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama, baik dakam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah.bagi seorang ilmuan paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu sebagai jendela darimana ia dapat menyaksikan dunianya secara jelas. Menurut Ritzer(1980:2-24)paradigma yaitu konsep-konsep dasar kuhn itu sendiri dibicarakan secara luas dalam berbagai ilmu pengetahuan sejak tahun 1970-an, dengan sendirinya dengan pokok permasalahan yang berbeda-beda sesuai dengan disiplin yang bersangkutan. Pada taraf tertentu paradigma memiliki persamaan dengan teori diatas, khususnya dikaitkan dengan fungsi-fungsinya dalam mengarahkan suatu penelitian. Perbedaanya sebagai alat teori bersifat sementara.hal-hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuan yaitu:

1. unsur dalam diri sendiri

2. unsur luar berupa lingkungan fisik

3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori

dalam dunia ilmu pengetahuan, paradigma dibatasi dalam kaitanya dengan kelompok-kelompok utama sebagaimana diintroduksi oleh Wilhelm Windelband(baca Dagobert D.Runes,ed,1959:992-994) yaitu:

1. paradigma ilmiah yang mengacu pada dasar ilmu pengetahuan nomotetis yang mengembangkan hokum-hukum yang umum

2. paradigma alamiah yang mengacu pada dasar ilmu pengetahuan ideografis yang mengembangkan gambaran mengenai kasus-kasus perorangan

lebih jauh dalam ilmu social (Ritzer,1985;cf.johnson, vol.1,1990:55-56) dikenal tiga macam paradigma ilmiah,yaitu:

1. paradigma fakta social yang diwakili oleh Durkheim

2. paradigma definisi social yang diwakili Weber

3. paradigma perilaku social yang diwakili Skinner

secara filosofis menurut Ritzer (1980:2-24), khususnya dalam kaitannya dengan metode kualitatif yang paling sedikit ada empat factor yang berpengaruh didalamnya,yaitu:

1. factor ontologis, kebberadaan objek yang dengan sendirinya berbeda dengan masing-masing ilmuan

2. factor epistimologis, bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan

3. factor aksiologis, penelitian adalah penilaian berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai

4. factor metodologis, keseluruhan penelitian,l termasuk metode,teori dan teknik

model pendekatan seperti sosiologi sastra dan psikologi sastra, demikian juga pendekatan multidisiplin lainnya jelas memperlukan pengalaman paragdimatis yang lebih kompleks. Keterlibatan berbagai disiplin dengan berbagai paradigma memiliki segi positif dengan memoertimbangkan sebagai berikut:

1. multi paradigma membuka cakrawala yang lebih luas, cara pemahaman ternyata tidak bersifat tunggal,melainkan plural

2. menghilangkan anggapan bahwa sebuah paradigma seperti juga sebuah teori, dapat menjawab semua permasalahan

3. menciptakan terjadinya saling menghargai pendapat ,kelebihan dan kekurangan orang lain

4. pluralitas paradigma sesuaidengan semangat postrukturalisme ,teori modern yang memberikan perhatian pada hakikat multicultural dengan memberikan perhatian terhadap kerifan local

penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori, tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.

 

BAB III

METODE, METODOLOGI, TEKNIK, DAN PENDEKATAN

 

Metode, metodologi, dan teknik

Metode berasal dari kata methodos, bahasa latin. Sedangkan methodos itu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju,melalui,mengikuti,sesudah sedangkan hodos berarti jalan,cara,arah. Dalam pengertian yang lebih luas metode dianggap sebagai cara,strategi untuk memahami realitas,langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Sebagai alat sama dengan teori, metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Secara etimologis metodologi berasal dari kata methodos dan logos, yaitu filsafat atau ilmu mengenai metode. Dengan demikian metodologi membahas prosedur inteletual dalam totalitas komunitas ilmiah. Penelitian terhadap ilmu kealaman yang dalam hal ini telah mengimplikasikan paradigma tertentu yaitu paradigma nomotetis, dimulai dengan menentukan objek secara konkret, prosedur penelitian secara pasti, baik melalui penyusunan proposal maupun melalui pemilihan instrument.Sebagai objek, meskipun bersifat abstrak, gejala-gejala yang diteliti,seperti: tema,alur,aspek estetika,wacana dan sebagainya,tetap dianggap kongkret.Hasil yang dicapai,baik dalam penelitian ilmu kealaman maupun kemanusiaan,sama-sama bersifat objektif.Perbedaanya,objektifitas ilmu kealaman bersifat generalisasisedangkan objektifitas ilmu kemanusiaan bersifat transferabilitas.Dikaitkan dengan paradikma diatas,metodologi memiliki kesamaan dalam hal tingkat keumumannya.Perbedaanya,secara definitif metodologi berkaitan dengan metode,sedangkan paradikma merupakan dasar-dasar pemahaman yang menggarisbawai entitas subjek dalam memandang objek tertentu.

Agak sulit untuk membedakan antara metodedengan teknik.Secara metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas.Teknis berasal dari kata teknikos,bahasa yunani,juga bererti alat,atau seni menggunakan alat.Oleh karena itulah,sering metode diatas disebutkan sebagai teknik.Ada tiga cara yang dapat dikemukakan untuk membedakan antara metode denhan teknik,bahkan juga dengan teori,sebagai berikut.

1.Dengan cara membedakan tingkat abstraknya.

2.Dengan cara memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaianya.

3.Dengan cara memperhatikan hubungannya dengan objek.

Ruang lingkup penggunaan cara dengan sendirinya juga dapat dijadikan pedoman untuk membedakan antara metode dengan teknik.Dalam suatu penelitian,urutan yang relatif baku mulai dengan paradikma,metodologi,teori,metode dan teknik.Menurut Goldmann(1989:3940), dengan memperhatikan kedekatan hubungan dengan objek.Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik,sebaliknya makim jauh dan kurang jelas disebut metod,teori,dan seterusnya.

 

 

Metode Intuitif

Pada dasarnya sulit untuk menentukan apakah sebuah metode dapat dikatakan baru,sehingga dikategorikan sebagai metode modern,atau sebaliknya sudah lama,sehingga tidak releven untuk digunakan.Dikaitkan dengan fungsinya,srbagai alat,metode lahir saat dipergunakan.Sebagai alat,maka metode adalah sebagai proses,diperbari secara terus-menerus.Metode intutif dianggap srbagai kemampuan dasar manusia dalam upaya memahami unsur-unsur kebudayaan.Ciri-ciri khas intuitif adalah kontemplasi,pemahaman terhadap gejala-gejalakultural dengan mempertimbangkan keseimbangan antara individu dengan alam semesta.

Metode Hermeneutika

Hermeneutika,baik sebagai ilmu maupun metode,memegang peranan yang sangat penting dalam filsafat.Dalan sastra,pembicaraanya terbatas sebagai metode.Di antara metode-metode yang lain,hermneutika merupakan metode yang paling sering digunakan dalam penelitian karyan sastra.hermeneutika diangga sebagai metode yang paling tua,sudah ada sejak zaman plato dan aristoteles.Secara etimologis hermeneutika berasal dari hermeneunein,bahasa Yunani,yang berarti menafsirkan atau menginterprestasikan.Secara metologis (ibid) hermeneutika dikaitkan dengan hermes,Dewa Yunani yang menyampaikan pesan iilahi kepada manusia.Pada dasarnya medium pesan adalah bahasa,baik bahasa lisan maupum tulisan.Dikaitkan dengan fungsi utama hermeneutika sebagai metode untuk memahami agama,maka metode ini dianggap tepat untuk memahami karya sastra dengan mempertimbangkan bahwa diantara karya tulis,yang paling dekat dengan agama adalah karyan sastra.Dalam kaitanya dengan metodehermeneutika,di bawah ini akan dibicarakan dua metode dengan ciri-ciri yang hampir sama,tetapi dilakukan dengan tujuan yang berbeda,yaitu metode kualitatif dengan metode analisis isi.

Metode Kualitatif

Metode kualitatif pada dasarnya sama dengan hermeneutika.Artinya,baik metode hermeneutika,kualitatif,dan analisis isi,secara keseluruhan memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi.Ciri-ciri terpenting metode kualitatif,sebagai berikut.

1.Memberikan perhatian utama pada makna dan pesan,sesuai dengan hakikat objek,yaitu sebagai studi kultural.

2.Lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehinga makna selalu berubah.

3.Tidak ada jarak antara subjek penelitian dengan objek penelitian,subjek penelitian sebagai instrumen utama,sehingga terjadiinteraksi langsung di antaranya.

4. Desain dan kerangka penelitian bersifat semantara sebab penelitian bersifat terbuka.

5. Penelitian bersifat alamiah,terjadi dalam konteks sosial budayaya masing-masing.

 

 

 

Metode Analisis Isi

Isi dalam metode analisis isi terdiri atas dua macam,yaitu isi laten dan isi komunikasi.Isi laten adalah isi yang terkandung dalam dokumen dan naskah, sedangka isi komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi. Isi laten adalah sebagaimana dimaksudkan oleh penulis,sedangkan isi komunikasi adalah isi sebagaimana terwujud dalam hubungan naskah dengan konsumen.Oleh karena itulah metode analisis isi dilakukan dalam dokumen-dokumen yang padat isi.Peneliti menekankan bagaimana memaknakan isi komunikasi,memaknakan isi komunkasi,memaknakan isi interaksi simbolik yang terjadi dalam peristiwa komunikasi.

Metode Formal

Secara etimologis formal berasal dari kata forma(Latin),berarti bentuk,wujud.Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspek-aspek formal ,aspek-aspek bentuk,yaitu unsur-unsur karya sastra.Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik.Dalam ilmu bahasa (sudaryanto, 1993: 145),misalnya,metode formal adalah cara-cara penyajian dengan memanfaatkan tanda dan lambang,yang dipertentangkan dengan metode informal,yaitu cara penyajian melalui kata-kata biasa.

Ciri-ciri utam metodr formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra,kemudian bagaimana hubungan antara unsur-unsur tersebut dengan totalitasnya.Oleh karena itulah,metode formal sama dengan metode unsur atau metode struktural,yang kemudian berkembang menjadi teori strukturalisme.Tugas utama metode formal adalah menganalisis unsur-unsur,sesuai dengan peralatan yang terkandung dalam karya jumlah,jenis,dan model unsur-unsur yang dianalisis tergantung dari ciri-ciri karya sastra dan tujuan penelitian.Unsur-unsur dibedakan menjadi unsur-unsur ektrinsik dan instrinsik,unsur-unsur kongkret dan formal unsur-unsur makro dan mikro.

Metode Dialektika

Secara etimologis dialektika berasal dari kata dialectica,bahasa latin,bererti cra membahas.Secara historis metode dialektika sudah ada sejak zaman plato,tetapi diperkenalkan secara formal oleh hegel.Menuru Hauser (1985:333-334),dalam dialektika unsur yang satu tidak harus lebur kedalam unsur yang lain,individualitas justru dipertahankan di samping interdependensinya.Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hereneutika,khususnya dalam gerak spiral eksplorasi makna,yaitu penelusuran ilmu kadalam totalitas,dan sebaliknya. Yang membedakannya adalah kontitunitas dan operasionalisasi tidak berhanti pada level tertulis,tetapi diteruskan ada jaringan kotegori sosial,yang justru merupakan maknanya secara lengkap. Perbedaan yang lain,dalam metode dialektika kontradiksi dianggap sebagai energi pemahaman objek.

 

 

 

 

Metode Deskriptif Analisisan

Metode penelitian dapat juga dipperoleh melalui gabungan dua metode,dengan syarat kedua metode tidak bertentangan.Metode deskriptif analitik filakukan dengan cra mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan.Meskipun demikian,analisis yang berasal dari Yunani,analyein (‘ana’=atas,’lyein’=lepas,urai), telah diberikan arti tambahan,tidak semata-mata menguraikan melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya.

Pendekatan dan Problematikanya

Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek,sedangkan metode adalah cara-cra mengumpulkan,menganalisis,dan menyajikan data.Tujuan metode adalah efisiensi,dengan cara menyederhanakan.Dengan memanfaatkan metode dan teori yang baru,tujuan pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.Olek karena itulah,pendekatan lebih dekat dengan bidang studi tertentu.Model pendekatan sastra yang perlu dikemukakan,diantaranya: pendekatan biografi sastra,sosiologi sastra,psikologi sastra,antropologi sastra,historis,dan mitopoik,termasuk pendekatan model abrams,yaitu ekspresif,pragmstik,mimetik dan objektif.

Pendekatan Biografis

Pendekatan bigrafis merupakan studi yang sistematis mengenai proses

kreatifitas.Pada umumnya biografis dimanfaatkan dalam kaitannya dengan latar belakang proses rekonstruksi fakta-fakta,membantu menjelaskan pikiran-pikiran seorang ahli,seperti:sistem idioligis,paradigma ilmiah,pandangan dunia,dan kerangka umum sosial budaya yang ada disekitarnya.Biografi merupakan dimentasi pengalaman-pengalaman masa lampau,baik personal,sebagai pengalaman individual,maupun kolektif,sebagai pengalaman intersubjektifr,yang pada saat-saat tertentu akan muncul kembali.Pendekatan biografis mulai ditinggalkan awal abad ke-20 sejak dimanfaatkannya teori strukturalisme.seperti diketahui, ciri khas strukturalisme adalah analisis egosentric,analisis yang sama sekali menolak relevansiunsur-unsur diluarnya,termasuk biografi pengarang.Konsekuensi logis yang ditimbulkannya adalah lahirnya berbagai teoriyang berusaha mendeskontruksi peranan pengarang,seperti:kekeliruan intensi pengarang(wimsatt dan beardsley),kelas sosial pengarang (Goldmann),pengarang tersirat(wayne booth),peranan sudut pandang(percy lubbock),enam fungsi bahasa(jakobson),peranan tindak kata(pratt).

Pendekatan Sosiologis

Pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat,dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu.Pendekatan biografis menganggap karya sastra sebagai milik pengarang,sedangkan pendekatan sosiologis menganggap karya sastra sebagai milik masyarakat.Dasar filosofi pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat.Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh:a)karya sastra dihasilkan oleh pengarang,b)pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat,dan c)pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat ,dan d)hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.Pendekatan sosiologis juga memiliki implikasin metodologis berupa pemahaman mendasar mengenai kehiduoan manusia dalam masyarakat.Oleh karena itulah,pendekatan ini disenangi oleh tradisi marxis,tradisi lekra di indonesia. Bagi mereka, aspek estetis karya dianggap memiliki kekuatan besar dalam mengorganisasikan massa.

Pendekatan Psikologis

Rene Wellek Austin Warren(1962:81-82)menunjukkan empat model pendekatan psikologis,yang dikaitkan dengan pengarang,proses kreatif,karya sastra,dan pembaca.Meskipun demikian, pendekata psikologis pada dasarnya berhubungan dengan tiga gejala utama,yaitu:pengarang,karya sastra,dan pembaca,dengan pertimbangan bahwa pendekatan psikologis lebih banyak lebih banyak berhubngan dengan pengarang dan karya sastra .Pendekatan psikologis kotemporer,sebagaimana dilakukan oleh mead,cooley,lewin,dan skinner(scehellenberg,1997),mulai memberikan perhatian pada interaksi antarindividu,sebagai interaksi simbolis,sehingga disebutkan sebagai analisis psikologi sosial.Sampai saat ini teori yang banyak diacu dalam pendekatan psikologis adalah diterminisme psikologi sigmundFreud(1856-1939). Menurutnya,semua gejala yang bersifat mental bersifat tak sadar yang tertutup

oleh alam kesadaran(schellenberg 1997:18).Dengan adanya tak keseimbangan,maka ketaksadaran menimbulkan dorongan-dorongan yang pada gilirannya memerlikan kenikmatan,yang disebut libido.Oleh karena proses kreatif adalah kenikmatan,dan memerlukan pemuasan,maka proses tersebut dianggap sejajar dengan libido.Meskipun demikian,teori kepribadian menurut Freud pada umumnya dibagi tiga,yaitu:a)Id atau Es,b) Super Ego atau User Ich.isi Id adalah dorongan-dorongan primitif yang harus dipuaskan,salah satunya adalah libido diatas.Id dengan demikian merupakan kenyataan subjektif primer,dunia batin sebelum,individu memiliki pengetahuan dunia luar..Ego bertugas untuk engontrol Id,sedangkan super Ego berisi kata hati.Meskipun pada awalnya pendekatan psikologis dianggap agak sulit untuk berkembang,tetapi dengan makin diminatinya pendekatan multidisiplin disatu pihak,pemahaman baru terhadap teori-teori psikologi sastra dipihak yang lain,maka pendekatan psikologi diharapkan dapat menghasilkan model-model penelitian yang lebih beragam.

Pendekatan Antropologis

Maka antropologis adalah ilmu pengrtahuan mengenai manusia dalam masyarakat.Oleh karena itulah,antropologi dibedakan antropologi fisik dan antropologi kebudayaan,yang sekarang berkembang menjadi studi kultural.Dalam kaitannya dengan sastra,antropologi pun dibedakan menjadi dua bidang,yaitu ontropologi dengan objek verbal dan nonverbal.Pendekatan antropologi sastrab lebih banyak berkaitan dengan objek verbal.Lahirnya pendekatan antropologis,didasarkan atas kenyataan,pertama,adanya hubungan antara imu antropologi dengan bahasa.Kedua,dikaitkan dengan trsadisi lisan,baik antropologi maupun sastra sama-sama mempermasalahkannya sebagai objekl yang penting.Pokok-pokok bahan yang ditawarkan dalam pendekatan antropologis adalah bahas sebagaimana dimanfaatkan dalam karya sastra,sebagai struktur naratif,di antaranya:

 

 

1.Aspek-aspek naratif karya sastra dari kebudayaan yang berbada-beda

2. Penelitian aspek naratif sejak epik yang paling awal hingga novel yang paling modern

3.Bentuk-bentuk akhais dalam karya sastra,baik dalam konteks individual maupun generasi

4. Bentuk-bentuk mitos dan sistem religi dalam karya sastra

5. Pengaruh mitos,sistem religi,dan citra primodialyang lain dalam kebudayaan populer.

Pendekatan Hitoris

Pendekatan historis pada umumnya lebih releven dalam kerangka sejarah sastra tradisional,sejarah sastra dengan imlikasi para pengarang,,karya sastra,dan periode-periode tertentu,dengan objek karya-karya sastra individual.Dengan mempertimbangkan indikator sejarah dan sastra,maka beberapa masalah yang menjadi objek sasaran pendekatan historis,di antaranya,sebagai berikut,

1.Perubahan karya sastra dengan bahasanya sebagai akibat proses penerbitan ulang.

2. Fungsi dan tujuan karya sastra pada saat diterbitkan

3. Kedudukan pengarang pada saat menulis

4. Karya sastra sebagai wakil tradisi zamannya

Pendekatan Mitopoik

Secara etimologis mythopoic berasal dari myth.Mitos dalam pengertian tradisional memiliki kesejajaran dengan vabel dan legenda.Tetapi dalam pengerian modern,khususnya menurut antropologi Frazerian dan psikologi jungian,mito masih memiliki hubungan dengan masa lampau sebagai citra primodial dan arketipe (rohrberger dan woods,1971:11-13).Mitos adalah cerita anonim yang berakar dalam kebudayaan primitif.Kekayaan masalah-masalah kebudayaan indonesia,termasuk karya sastranya,memberikan peluang yang juga menjanjikan bagi perkembangan pendekatan mitopoik. Pemahaman sastra indonesia adalah pemahaman menyeluruh terhadap aspek-aspek kebudayaan yang melatarbelakanginya.Cara penelitian ini dengan sendirinya sudah dimulai sejak lama,sebelum lahirnya pendekatan objektif dengan teori strukturalisme.

Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif memiliki sejumlah persamaan dengan pendektan biografis dalam hal fungsi dan kedudukan karya sastra sebagai manifestasi subjek kreator.Dikaitkan dengan proses pengumpulan data penelitian,pendekatan ekspresif lebih mudah dalam memanfaatkan data biografis dibandingkan dengan pendekatan biografis dalam memanfaatkan data pendekatan ekspresif.Sebaliknya pendekatan ekspresif lebih banyak memanfaatkan data sekunder,data yang sudah diangkat melalui aktivitas pengarang sebagai subjek pencipta,jadi,sebagai data literer.

Pendekata Mimeis

Menurut Abrams(1976: 8-9) pendekayan mimeis merupakan pendekatan estetis yang paling primitif. Akar Sejarahnya terkandung dalam pandangan plato dan aristotelas. Menurut plato,dasar pertimbangannya adalah dunia pengalaman,yaitu karya sastra itu sendiri tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya,melainkan hanya sebagai peniruan.Pandangan ini ditolak oleh Aristoteles dengan argumentasi bahwa karya seni berusaha mensucikan jiwa manusia,sebagai khatarsis.Pendekata mimeis marxis merupakan pendekatan yang paling beragam dan memiliki sejarah perkembangan yang paling panjang. Meskipun demikian,pendekatan ini sering dihindarkan sebagai akiibat keterlibatan tokoh-tokohnya dalam dunia politik.

Pendekatan Pragmatik

Pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca.Dalam kaitannya dengan salah satu teori modern yang paling pesat perkembangannya,yaitu teori resepsi,pendekatan pragmatis dipertentangkan dengan pendekatan ekspresif. Perbedaannya,pengarang merupakan subjek pencipta,tetapi secara terus-menerus fungsi-fungsinya dihilangkan,bahkan pada gilirannya pengarang dimatikan.Sebaliknya,pembaca yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang proses kreativitas diberikan tugas utama bahkan dianggap sebagai penulis.Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya.Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca,maka masalaqh-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis,diantaranya berbagai-bagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra,baik sebagai oembaca eksplisit maupun implisit,baik sebagai kerangka sinkronis maupun diakronis.

Pendekatan Objektif

Secara historis pendekatan ini dapat ditelusuri pada zaman Aristoteles dengan mempertimbangkan bahwasebuah tragedi terdiri atas unsur-unsur kesatuan,keseluruhan kebulatan,dan keterjalinan.Pendekatan objektif dengan demikan memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur,yang dikenal dengan analisis instrinsik.Konskuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik,seperti aspek historis,sosiologis,politis,dan unsur-unsur sosiokultural lainnya termasuk biografi.

 

BAB V1

TEORI-TEORI STRUKTURALISME

4.1 Prinsip-prinsip Antarhubunhgan

Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan pemting.Artinya unmsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperanan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi,yaitu dalam rangka menunjukkan unsur-unsur yang terlibat.Dengan mengambil analogi dalam bidang bahasa sebagai hubungan sintakmatis dan paragdigmatis.Maka karya sastra dapat dianalisis dengan dua cara.Pertama,menganalisis munsur-unsur yang tergantung dalam karya sastra.kedua,menganalisis karya melalui perbandingan dengan unsur diluarnya,yaitu kebudayaan pada umumnya.Relevansi prinsip-prinsip antar hubungan dalam analisis karya sastra disatu pihak mengarahkan peniliti agar secara terus-menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur lain.

4.2 Teori Formalisme

Sebagai teori modern mengenai sastra,secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh tiga faktor sebagai berikut:

1. Formalisme lahir akibat penolakannya terhadap paradigma positifisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip klousalitas dalam hubungan ini sebagai reaksi terhadap studi biografi

2. Kecenderungan yang terjadi dalam ilmu hulmaniora dimana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke singkronis

3. Penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap karya sastra dengan sejarah sosiologi dan psikologi.

Tujuan pokok formalisme adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan puitika,asosiasi,oposisi,dan sebagainya.Penerapan strukturalisme dalam

Disiplin linguistik ferdinan de saussure melaluimazhab jenewa merupakan langkah yang sangat maju dalam rangka mengarahklan teori tersebut sebagai teori modern sebelumya.Konsep dasar selanjutnya yang ditawarkan adalah perbedaan yang jelas dikotomi antara a)signifiant (bentuk,bunyi,lambang,penanda) dan signifie(yang diartikan yang ditandakan yang dilambangkan petanda),b)parole(tuturan,penggunaan bahasa individual) dan langue(bahasa yang hukum-hukumnya yang telah disepakati bersama),c) sinkroni(analisis karya-karya sezaman) adan diakroni(analisis karya dalam perkrembanhan kesejarahannya.Menurut sausure(morris,1983:25)linguistik modern dengan demikian dapat berkembang dengan cara a)memberikan prioritas terhadap penelitisn singkronis sekaligus meninggalkan model-model penelitian diakronis abad ke-19 b)memberikan prioritas terhadap bahasa sebagai sistem sebab sistem inilah yang mendasari rannah bahasa tuturan.

4.3 teori strukturalisme dinamik

secara etimologis struktur berasal dari kata structura, bahasa latin yang yang berarti bentuk atau bangunan. Menurut tew (1988:131) sekaligus dalam bidang sastra strukturalisme berkembang melalui tradisi formalisme, artinya hasil-hasil yang dicapai melalui tradisiformalis sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalis. Robert scholes (1997) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga taha, yaitu sebagai pergeseran paradigma berfikir,sebagai metode,dansebagai teori. Menurut Mavin Haris (1979:166-167) asal-usul strukturalisme adalah ide sebagaimana dikemukakan oleh Durkheim sejajar dengan penjelasannya mengenai hakikat suatu masyarakat, totalitas yang terdiri ata kesadaran kolektif, maka pikiran pun terdiri atas cetakan-cetakan yang memungkinkan untuk memahami totalitas benda-benda. Secara denitif strukturalisme yaitupaham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri dngan mekanisme antarhubungannya, disatu pihak antar hubungan unsuur yang satu dengan yang lain dipihak hubungan yang lain antara unsur dengan totalitasnya. Difakiltas sastra universitas udayana mengemukakan sistematika analisis fiksi yang terdiridari

1. aspek ekstrinsik (historis,sosiologis,psikologis,filosofis,dan religius)

2. aspek intrinsik

a) elemen-elemen cipta sastra

a. insiden

b. plot

3. karakterisasi

c. teknik cerita

d. komposisi cerita

e. gaya bahasa

4.4 Teori semiotika

Handbook of semiotics (noth, 1990:307,346) menyebutkan bahwa semiotika merupakan akibat langsung formalisme dan strukr\turalisme. Menurut noth (ibid,11) ada empat tradisi yang melatarbelakangi kelahiran semiotika adalah semantik,logika,retrorika, dan hermeneutika. Culler(1977:6) menyebutkan strukturalisme dan semantika sebagai teori yang identik,strukturalisme memusatkan perhatian pada karya sedangkan semiotika pada tanda. Selden (1986:54) menganggap strukturalisme dan semiotika termasuk pada bidang ilmu yang sama, sehingga keduannya dapat dioperasikan secara bersama.

Secara denetif, menurut Paul Cobley dan Litza janz (2002:4) semiotika berasal dari kata seme, bahasa yunani yang berarti penafsir tamda. Literatur lain menjelaskan bahwa semiotika berasal dari kata semion yang berarti tanda. Dalam pengertian luas, sebagai teori, semiotika berarti sabagai studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda.dilihat dari segi cara kerjanya, maka terdapat ; a)sintaksis semiotika, yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain, b) semantik semiotika, studa dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda denga acuannya, c) pragmatik semiotika, studi dengan memberikan perhatian pada hubungan antara pengirim dan penerima. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda, maka tanda dibedakan sebagai berikut:

1. Representament, ground, tanda itu sendiri sebagai perwujudan gajala umum :

a) Qualisighs,terbentuk oelh kualitas:warna hijau,

b) Sinsigs,tokens,terbentuk melalui realitasfisik rambu lalulintas

c) Lengisigs,types,berupa hukum:suara wasit dalam pelanggaran

2. Object (designatum,denotatum,referent), yaitu pa yang diacu:

a) Ikon,hubungan tanda dari objek karena serupa misalnua foto

b) Indeks,hubungan tanda dan objek karena sebab akibat,seperti asap dan api

c) Simbol hubungan tanda nobjek karena kesapakatan seperti bendera

3. Interfretant,yanda-tanda baru yahng terjadi pada batin penerima:

a) Rheme,tanda-tanda sebagai kemungkinin konsep

b) Dicisigns,dicent signs,tanda sebagai fakta pernyataan deskripsi

c) Argument,tanda tampak sebagai nalar dan proposisi

Menureut Aart Van zoest (1993:5-7) dikaikan sebagai bidang-bidang yang dikaji,pada umunya simiotika dibedkan menjadi tiga aliran yaitu:

1. Aliran semiotika kamunikasi ndengan itensitas kualitas tanda dalam kaitannnya dengan pengirim dan penerima

2. Aliran semioyika konotatif,atas dasar ciri-ciri denotasi kemudian dioeroleh makna kinotasinya

3. Alira semiotika ekspansif,diperluas dengan bidang psikologi dan sosiologi

Cara menganalisis karya sastra secara semiotis wellek and dan warren (1962:a) analisis intrinsik(analisis mikro struktur) b) analisism ekstrinsik (analisis makro struktur). Cara lain dikemukakan oleh Abrams (1976:6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek, yaitu: a0 pengarang (eksprisif), b) semestaan (mimetik), c) pembaca (pragmatik), d) obyektif (karya satra itu sendri)

4.4.1.1 bidang-bidang penerapan

sebagai ilmu, semiotika berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia baik tanda verbak maupun nonverbal. Dengan adanya tanda-tanda sebagai ciri khas yang meliputi seluruh kehidupan manusia. Maka bidanmg penerapan semiotika pada dasarnya tidak terbatas. Eco (1979>9-140 menyebutkan beberapa bidang penerapan yang dianggap relevan, diantaranya:

1. semiotika hewan, masyarakat nonhuman

2. semiotika penciumsn

3. semiotika komunikasi dengan perasa

4. semiotika dalam pencicipan, dalam masakan

5. semiotika dalam paralinguistik, suprasegmental

6. semiotika medis

7. semiotika kinesik, gerakan

8. semiotika musik

9. semiotika bahasa formal

10. semiotika bahasa tertulis

11. semiotikakomunokasi visual

12. semiotika benda-benda

13. semiotika stuktur cerita

14. semiotika kode-kode budaya

15. semoitika estetika dan pesan

16. semiotika teks

17. semiotika retorika

Menurut Aart van zoest (1993:131) interaksi sosial terjadi sebagai akibat rangsangan dan interpretasi terhadapsistem tanda, baik tanda-tanda bahasa maupun nonbahasa.

. 4.4.2 semiotika sastra

ikon yaitu ciri-ciri kemiripan itu sendiri, berfungsi sebagai menarik partikel-partikel ketandaan, sehingga proses intrpretasi dimungkinkan secara terus-menerus. Ada tiga macam ikon, yaitu: a) ikon topografis, berdasarkan persamaan tata ruang, misalnya puisi-puisi konkret atau visual, b) ikon diagramatis atau relasionel, berdasarkan persamaan dua diagram, c) ikon metaforis, berdasarkan persamaan dua kenyataan yang didenotasikan sekaligus langsung atau tidak langsung, misalnya alegori atau parabel. Edmund Leach (1976:15-16) membedakan antara simbol dengan tanda dan sinyal. Sinyal menunjukkan hubungan dua gejala secara mekanis dan otomatis. Simbol ditandai oleh dua ciri, yaitu: a)antara penanda dan petanda tak ada hubungan intrinsik sebelumnya, b) penanda dan petanda merupakan unsur struktural yang berbeda. Ciri-ciri tanda, a) ada hubungan intrinsik sebelumnya, b) termasuk kedalam konteks kultural yang sama.

4.4.3 Semiotika sosial

Semiotika sosial memiliki implikasi lebih jauh dalam kaitannya dengan hakikat teks sebagai gejala yang dinamis. Sebagai ilmu tanda, semiotika sosial mesti dipahami dalam kaitannya dengan konteks, dimana tanda-tanda tersebut difungsikan. Tanda difungsikan dalam dirinya sendiri. Oleh karena itulah baik dalam strukturalisme maupun semiotika konsep antar hubungan memegang peranan yang sangat menentukan, fungsi0fungsi yang selalu diabaikan oleh para peneliti sastra.

4.5 Teori strukturalisme genetik

Strukturalisme genetik dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisia strukturalisme murni analisis terhadap unsur-unsur intrinsik. Strukturalisma genetik memiliki implikasi yang luas dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu kemanusiaan pada umumnya. Sebagai seorang strukturalis, Goldman sampai pada kesimpulan bahwa struktur bermakna, dimana setiap gejala memiliki arti apabila dikaitkan dengan struktur yang lebih luas, demikian seterusnya sehimgga setiap unsur menopang totalitasnya. Secara denitif, strukturalisme genetik adalah analisis struktur dengan memberiknn perhatian terhadap asal-uaul karya. Secara ringkas berarti bahwa strukturalisme genetik sekaligus memberikan perhatian nterhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik. Secara denitif, goldman (1977:25) menjelasakan pandangan dunia sebagai ekspresi melalui hubungan dialektikal kolektivitas tertentu dengan limgkumgan sosil politik dan terjadi dalam periode bersejarah yang panjang.

4.6 teori strukturalisme naratologi

naratologi pascastrukturalis merupakan salah satu kajian juga yang banyak menarik minat, sebagai kajian interdisipliner dengan pertimbangan, disatu pihak naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra melainkan keseluruhan teks sebagai aktivitas rekaman manusia. Secara historis, menurut Marie Laureryan dan Van alphen (makaryk, ed, 1990:110-114) naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode sebagai berikut:

1. periode prastrukturalia (- hingga tahun 1960-an)

2. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an)

3. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang)

4.6.1 Vladimir lakovievich propp

Menurut Teew (1988:292-293) tujuan propp bukan tipologi struktural tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Dengan kalimat lain, dengan menggabungkan antara struktur dengan genetiknya, struktur mendahuluisejarah maka akan ditemukan proses penyebarannya. Menurut Selden(1986:580meskipun teori propp didasarkan oleh dongeng-dongeng rusia,tetapi fungsi tersebut dianggap hadir dalam jenis-jenis lain.

4.6.2 Claude levi-strauss

Sepertidisebutkan diatas, pendekatan yang hampir sama dengan Vladimir propp dilakukan oleh claude levi seorang antopolog. Meskipun demikian menurut scholes (1977:59-700 keduanya tetap berbeda. Prtama, apabilapropp memberikan perhatian pada cerita, Levi lebih banyak memberikan perhatian pada mitos. Kedua, apabila propp menilai cerita sebagai kualitas estetis, Levi menilainya sebagai kualitas logis. Ketiga, apabila propp menggunakan konsep fungsi sebagai istilah kunci atas dasar asumsi linguistik, Levi mengembangkan istilah myth dan mytheme. Keempat, propp memberikan perhatian pada naratif individual, Levi memberikan perhatian pada mitos yang terkandung pada setiap dongeng, baik secara bulat maupun fragmentaris.

4.6.3 Tzvetan Todorov

Dalam analisis Tzvetan todorov mempertimbangkan tiga aspek ,yaitu: a)aspek sintaksis, meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. b)aspek semantik, berkaitan dengan makna dan lambang, meneliti tema,tokoh dan latar. c) aspek verbak, meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang dan gaya bahasa. Konsep Todorof yang lain adalah inpraesentia dan in absentia, dalam linguistik disejajarkan dengan sintagmatik dan paradigmatik atau sintaksis dan semantis.

4.6.4 Algirdas julien greimas

Naratologi greimas(Selden,1986:59-60 Culler,1977:77-78) merupakan kombinasi antara model paragdimatis Levistrauss dengan model sintagmatis propp.objek penelitian Greimass tidak terbatas pada gendre tertentu tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir samaGreimass memberikan perhatian pada relasi.

4.6.5 Shlomith Rimmon-kenan

Rimmon-kenan (1983:1-5) juga menjelaskan bahwa wacana naratis meliputi keseluruhan kehidupan manusia. Text adalah wacana yang diucapkan atau ditulis apa yang dibaca. Narration adalah tindak atau proses produksi yang mengimplikasikan seseorang, baiksebagai fakta maupun fiksi yang mengucapkan atau menulis wacana.

 

 

 

BAB V

TEORI-TEORI POSTRUKTURALISME

 

5.1 hubungan antara postmodernisme dengan postrukturalisme

paradigma postrukturalisme adalah cara-cara mutakhir baik dalam bentuk teori maupun metode dan teknik, yang digunakan dalam menguji objek.pada umumnya kelemahan strukturalisme dapat diidentifikasi sebagai berikut: a)model strukturalisme, terutama pada awal perkembangannya dianggap terlalu kaku sebab semata-mata didasarkan pada struktur dan sistemtertentu. b) strukturalisme terlalu banyak memberikan perhatian suatu karya sastra sebagai kualitas otonom dengan sistem dan strukturnya.c) hasil analisis dengan demikian seolah-olah demi karya sastra itu sendiri, bukan untuk kepentingan masyarakat secara luas.

Strukturalisme (Ritzer,2003:49-64) lahir sebagai reaksi terhadap model-model penelitian sebelumnya yang memberikan perhatian pada sejarah dan asal-usul suatu gejala kultural. Postmodernisme, dari kata “post”+modern+”isme” yang berarti paham sesudah modern, dan postkulturalisme, dari kata”post”+struktur+”isme” yang berarti paham sesudah struktur, baik secara historis pragmatis maupun intelektual akademis memiliki kaitan yang sangat erat. Prefiks :post” dengan padananya seperti “pra” dan akhir sudah digunakan jauh sebelumnya, eperti post industri,akhir manusia dan akhir sejarah.postmodernisme dan postrukturalisme berkembang dengan sangat pesat dip[icu oleh tiga indikator yang saling melengkapi, yaitu:

1. postmodernisme dan postrukturalisme sebagai kecenderungan mutakhir peradaban manusia brkembang dalam situasi dan kondisi yang serba cepat

2. perkembangan pesat kajian wacana baik dalam bidang sastra, sebagai teks maupun nonsastra sebagaidiskursus

3. perkembangan pesat interdisipliner yang memungkinkan berbagain disiplin dalam kajian tunggal.

5.2 teori-teori postmodernisme

Robert dunn (1993:40-41) mencoba memberikan ciri-ciri modernisme dengan postmodernisme diantarannya: a) pergeseran nilai yang menyertai budaya masa dari produksi ke konsumsi, dari pencipta ke penerima, dari karya ke teks, dariseniman ke penikmat, b) pergeseran dari keseriusan (intelektualitas) ke nilai-nilai permainan(populer), dari kedalaman kepermukaan, dari universal ke partikular, c) kebangkitan kembali nilai-nilai estetis periode 1960-an, d) munculnya politik representasi periode 1970-an yang menentang struktur otoritas, e) kebangkitan kembali tradisi primordial dan nilai-nilai masyarakat lainnya. Ciri-ciri utama teori postmodern (Linda Hutcheon,1992:60) dan dengan sendirinya juga postrukturalisme adalah penolakan terhadap adanya satu pusat,kemutlakan,narasi-narasi besar,metanarasi,gerak sejarah yang monolinier.

5.3 Teori-teori postkulturalisme

Dasar-dasar teori postkulturalisme adalahstrukturalisme, sedangkan strukturalisme itu sendiri lahir melalui formalisme rusia. Hubungan antara strukturalisme dengan postrukturalisme sangat kompleks. Menurut teew (1988:139-140) strukturalisme dianggap memiliki kelemahan dengan alasan: a) belum memiliki syarat sebagai teori yang lengkap, b) karya seni tidak bisa diteliti secara terpisah dari struktur sosial, c) kesangsian terhadap struktur objektif karya, d) karya dilepaskan dari relevansi pembacanya, e) karya satra juga dilepaskan dari relevansi sisial budaya yang melatarbbelakanginya.

5.3.1 Teori resepsi sastra

Menurut Robert C. Holub (1984:14) ada lima tradisi yang berpengaruh besar terhadap perkembangan teori resepsi, yaitu: a) formalisme rusia, b) strukturalisme praha, c) fenomenologi roman ingarden, d) hermeneutika hans georg gadamer, e) sosiologi sastra. Resepsi sastra tampil sebagai sebuah teori dominan sejak tahun1970-an dengan pertimbangan:

1. Sebagai jalan keluar untuk mengatasi strukturalisme yang dianggap bahwa hanya memberikan perhatian terhadap unsur-unsur

2. Timbulnya kesadaran untuk membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka kesadaran humanisme universal

3. Kesadaran bahwa nilai karya sastra dapat dikembangkan hanya melalui kompetensi pembaca

4. Kesadaran bahwa keabadian nilai karya seni disebabkan oleh pembaca

5. Kesadaran bahwa nilai terkandumg dalamhubungan ambiguitas antara karya sastra dengan pembaca.

Dalam penelitian resepsi dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu: a) resepsi secara sinkronis, b) resepsi secara diakronis.

5.3.2 teori interteks

secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Teks secara etimologis (textus, bahasa latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks, yaitu melalui proses oposisi, permutasi, dan transformasi. Aktivitas interteks terjadi melalui dua cara,yaitu: a)membaca dua teks atau lebih secara berdampingan pada saat yang sama, b) hanya membaca sebuah teks tetapi dilatar belakangi oleh teks lain yang sudah pernah dibaca. Secara denitif interteks mendekonstruksi dikotomi penanda dan petanda semiotika konvensional, dimana karya dianggap berdiri sendiri secara otonom.

5.3.3 teori feminis

menurt Teew (naskah balum terbit) beberapa indikator yang dianggap telah memicu gerakan feminis didunia barat tersebut, sebagai berikut:

1. berkembangnya teknik kontrasepsi yang memungkunkan perempuan melepaskan diri dari kekuasaan laki-laki

2. radikalisasi politik, khususnya sebagai akibat perang vietnam

3. lahirnya gerakan pembebasan dari ikatan-ikatan tradisional, misalnya ikatan gereja, ikatan kulit hitam amerika, ikatzn mahasiswa

4. sekularisasi, menurunnya wibawa agama dalam segala bidang kehidupan

5. perkembangan pendidikan yang secara khusus dinikmati oleh perempuan

6. reaksi terhadap pendekatan sastra yang mengasingkan karya dari struktur sosial

7. ketidak puasan terhadap teori dan praktik ideologi marxis othordoks, tidak terbatas sebagai marxis sovyet atau china, tetapi marxis didunia barat secara keseluruhan.

Secara etimologis feminis berasal dari kata femme(woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan sebagai kelas sosial. Jadi tujuan feminis adalah keseimbangan, interelasi gendre. Dalam pengertian yang paling luas feminis adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang polit dan ekonomi maupun kehiupan sosial pada umumnya. Dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu dalam sastra, feminis dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra baik kaitannya dengan proses produksi maupun resrpsi.

(Barnhouse,1988:57-59) hubungan pria wanita dianalisis melalui tiga tingkatan, yaitu: a) tngkat simbolis atau arketipal, b) tingkat psikologis dan budaya, c) tingkat biologis. Menurut Selden (1986:130-131) ada lima masalah yang biasanya muncul dalam kaitanya dengan teori feminis, yaitu: a) masalah biologis, b) pengalaman, c) wacana, d) ketaksadaran, e) masalah sosio ekonomi

5.3.3.1 Luce irigarai

Luce irigarai (Lechte, 2001:248) mengemukakan argumentasinya dengan menolak pendapat Freud dan Lacan yaitu yang ral, yang simbolik, dan yang imajiner.

5.3.3.2 Julia kristeva

Julia kristeva dikenal sebagai pelopor teori intereks. Menurut kristeva (Lechte, 2001:223) ruang tempat dimainkannya dimnamika subjectivitas disebut ruang artistik. Ada hubungan timbal balik ciri-ciri artistik dalam membangun subjek, sebagaimana subjek membentuk karya seni. Karya seni dengan demikian merupakan landasan pengalaman autentik yang mampu membuka jalan demi suatu perubahan kepribadian.

5.3.3.3 Helene cixous

Helene cixous (Moi, 1985:104) adalah seorang novelis, penulis drama, sekaligus kritikus feminis. Pusat perhatian cixous ada dua macam, yaitu: a) hegemoni opsisi biner dalam kebudayaan barat, b) praktik penulisan feminin yang dikaitkan dengan tubuh, dalam kaitannya dengan makna,Cixous (Moi, 1985;105-106) memanfaatkan teori differance Derrida, bentuk pemikiran yang menolak opsisi hierarkis, tetapi pembuka terhadap perbedaan yang majemuk sehingga produksi makna tidak pernah selesai, sebagai proses ad infinitum.

5.3.3.4 Donna j. Haraway

Donna haraway (1991:150) merupakan kritikus feminis dengan sudut pandang dan argumentasi yang berbeda. Cyborg adalah personalitas dan kolektivitas postmodern yang dapat dibongkar dan dirakit ulang.

5.3.4 Teori postkolonial

Secara etimologis postkolonial berasal dari kata “post” dan kolonial, sedangkan kata kolonial itu sendiri berasal dari akar kata colonia, bahasa romawi yang berarti tanah pertanian atau pemukiman. Jadi, secara etimologis kolonial tidak mengandung arti penjajahan, penguasaan, pendudukan, dan konotasi eksploitasi lainnya, postkolonial melibatkan tiga pengertian, yaitu: a)abad berakhirnya imperium kolonial diseluruh dunia, b) segala tulisan yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman kolonial, c) teori-teori yang digunakan untuk menganalisis masalah-masalah pascakolonialisme. Paling sedikit terkandung empat alasan mengapa karya sastra dianggap tepat untuk dianalisis melalui teori-teori postkolonial

1. Sebagai gejala kultural sastra menmpilkan sistem komunikasi antara pengirim dan penerima, sebagai mediator masa lampau dengan masa sekarang

2. Karya sastra menampilkan berbagai problematika kehidupan, emosionalitas dan intelektualitas, fiksi dan fakta, karya sastra adalah masyarakat itu sendiri

3. Karya sastra tidak terikat oleh ruang dan waktu, kontemporaritas adalah manifestasikan yang paling signifikan

4. Berbagai masalah yang dilukiskan secara simbolis, terselubung, sehingga tujuan-tujuan yang sesungguhnya tidak tampak.

Said,2003:44-45, visi postkolonial menunjukkan bahwa pada masa penjajahan yang ditanamkan adalah perbedaan sahingga jurang pemisah antara kolonial dengan pribumi bertambah lebar.

5.3.5 Teori dekonstruksi

Ciri khas deskrontruksi sebagaimana dikemukakan oleh Derida (1976) adalah penolakannya terhadap logosentrisme dan fonosentrisme yang secara keseluruhan melahirkan oposisi biner dan cara-cara berfikir lainnya yang bersifat hirerakis dikotomis.

5.4 Teori postrukturalisme naratologi

Naratologi adalah bidang ilmu mengenai narasi,studi mengenai bentuk dan fungsi naratif.Secara definitive menurut(cf. Luxemburg,dkk,l.1984-120;)yang dimaksudkan denganstruktur wacana atau teks naratif adalahsemua wacana atau teks yang isinya merupakan rangkaian peristiwa,yang dibedakan menjadistruktur narasi fiksi dan struktur narasi nonfiksi.Dalam sastra oral (Ruth Finnegan, 1977:28) karya sastra tidak dapat dipahani semata-mata melalui teks, nmelalui struktur naratif sebab karya selalu berubah setiap kali dipentaskan.Pementasan tidak bias dianggap sebagai aspek sekunder atau pelengkap,melainkan merupakan bagian integral totalitas.

5.4.1 Wacana dan Teks

Wacana (discouser,diskursus) maupun teks akan menghasilkan pemgertian yang lebih jelas apabila ditelusuri maknanya melalui tradisi sastra barat.Secara etimologis wacana berasal dari vacana (sansekerta) ,berarti kata-kata,ara berkata,ucapan,pembicaraan,perintah,dan latihan.Discaurse berasal dari katadiscurrere (latin),berarti gerak maju mundur ( dari dan ke).Secara kasar wacana disejajarkan dengan utterance dan speech,ujaran atau ucapan,sebagai bahasa yang sedang digunakan,parole menurut pemahaman Saussure.Teks,seperti telah disinggung di depan,berasal dari kata textum (latin),yang berarti tenunan,jalinan,susunan.Menurut bakhtin(todorov,1984:57) ada lima hal yang mempengarui wacana:a) genre, b)profesi, c)struktur social, d) umur, e)wilayah (dialek dalam pengertian yang sempit).Wacana tidak bersifat umifersal, maka masyarakat pun bukanlag entitas yang monolitik,maka plural,meskipuin cenderung bersatu.

5.4.2 Tokoh-tokoh Postrukturalisme Naratologi

5.4.2.1 Gerard Genette

Dengan menolak kecenderungan diadik seperti fabula dan sjuzet di atas genette (1985; cf. Wallace Martin, 1986: 108) membedakan cirri-ciri naratif menjadi tiga sisi, yaitu: Histoire,recif,dan narration, yang sejajar dengan story,narrative,dan narrating,sedangkan Mieke bal membedakannya menjadi fabula,story,dan teks. Menurut genette,histoire adalah perangkat peristiwa,sebagai isi naratif . Recit adalah wacana atau teks naratif itu sendiri,sedangkan narration adalah tindak naratif yang menghasilkan teks.Menurut Schole (1977:165),story dan recit sejajar deengan fabula dan sjuzet.Genette (1986: 35-32) membedakan tiga macdam analisis naratif,yaitu:a) analisis pernyataan naratif,dalam kaitannya denganh serial peristiwa, baik lisan maupun tulisan, b) analisis isi naratif, dalam kaitaqnnya dengan urutan atau susunan peristiwa, nyata atau fiksi,sebagai wacana. c) analisis dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa dalam cerita.

5.4.2.2 Gerald Price

Tokoh naratologi postrukturalis berikut adalah Gerald Prince (1982:1-9),dengan konsepnya yang terpenting adalah narrate yang pada dasarnya diambil melalui konsep Gerard Genette.Narratee dianggap sebagai partner komunikatif narrator, individu actual dalam narasi nonfiksi,tetapi sebagai konstruktekstual dalam fiksi.Dalam naratologi ,narrator adalah orang pertama,narratee adalah orang kedua,narrated adalah orang yang dibicarakan. Perbedaannya,dalam struktur naratif Princean seolah-olah ada kategori orang pertama,yaitu pengarang dan pencerita.

5.4.2.3 Symour Chatman

Symour Chatman dalam judulnya yang berjudul Story and Discurse: Narrative Structure in Fiction and Film,yang terbit pertama kali tahun (1987,sesuai dengan judulnya,bermaksud untuk menjelaskan hakikat struktur naratif dengan dua unsur pokok yaitu cerita dan wacana.Menurut Chatman,cara yang paling mudah untuk menganali dan membedakan antara cerita dan wacana adalah dengan pertanyaan” apa” (untuk memahami cerita) dan “bagaimana” (untuk memahami wacana).Menurut Chatman (1980: 22-45), cerita disebut sebagain isi, sedangkan wacana disebut sebagai ekspresi.

5.4.2.4 Jonathan Culler

Jonathan Culler (1977:113-130),mengembangkan konsep kompetensi yang berasal dari Noam Chomsky,yang berpasangan dengan performa.Kompetensi diartikan sebagai kemampuan implisit,pengetahuan laten dalam memahami hakikat bahasa.Kompetensi berinteraksi ndengan system kognitif yang lain seperti memori dan logika.

5.4.2.5 Roland Barthes

Tokoh naratologi postruktural yang lain adalah Roland Barthes ,lahir di prancis (1915-1980). Barthes dikenal sebagai semiolog yang sangat aktif dalam memanfaatkan teori structural saussurean sekitar tahun 1960-an sejajar dengan Levi-strauss,Michel Foucault,dan Jacques Lacan.Pada akhirnya Bathers mengakui bahwa proses pemaknaan tidak terbatas pada bahasa tetapi meliputi seluruh kehidupan ini,tetapi tetap atas dasar-dasar konsep linguistik, sebagaimana dilakukannya dalam analisis berbagai gejala masyarakat dalam bukunya yang berjudul mythologies.

5.4.2.6 Mikhael Mikhaelovich Bakhtin

Sebagai salah seorang tokoh postrukturalisme.Mikhael Bakhtin (1895-1975) menolak strukturalisme Saussure yang menganggap bahwa sebagai objek penelitian yang statis,monologis,dan terisolasi.Menurut Bakhtin (selden,1986: 16-17) bahasa adalah gejala social,kata-kata merupakan tanda-tanda kemasyarakatan yang aktif dan dinamis sehimgga dapat menampilkan arti dan konotasi yang bermacam-macam untuk kelas yang berbeda-beda.

5.4.2.7 Hayden White

Berbada de4ngan tokoh-tokoh lain, Whait memahami teks melalui perspektif sejarah.Bukunya yang sangat representatif dalam hubungan ini berjudul Tropik of Discourse:Essays in Cultural Criticism,terbit pertama kali tahun 1987.Hubungan antara sastra dengan sejarah sangat dekat .Hubungan yang dimaksudkan lebih banyak bersifat interdependensi,bukan berlawanan secara diametral,sebagai semata-mata fiksi dan fakta,seperti diduga banyak orang.

5.4.2.8 Mary Lauise Pratt

Mary Lauise Pratt damaksudkan sebagai tokoh postrukturalisme naratologi dalam kaitannya dengan teori-teori tundak kata (speech act theory). Teori tundak kata sesungguhnya sudah berkembang pada periode 1930-an,melalui J.L.Austin.Ciri khas Pratt adalah teori sastra yang terkandung pada kkonteks pe3mahaman terhadap karya sastra dengan cara mengaitkannya dengan struktur sosial secara luas.

5.4.2.9 Jacques-Marie Emilc Lacan

Menurut Lacan,pada fase pra-Oedipal atau imajinerlah tetbentuk bahasa. Lacan menyebutkan sebagai fase cermin,di mana Ego menemukan dirinya yang sekaligus bukan dirinya sehingga terjadi kekaburan di antara subjek dan objek.Menurut Lacan (Eagleton, 1963:163-165) fase cermin juga dapat diidentifikasi sebagai perbedaan antara penanda dan petanda,ataiu sebagai metafora,objek yang serupa dengan dirinya.

5.4.2.10 Michael Faucaulte

Michael Faucaulte (1926-1984) lahir di paitiers,Perancis.Keahliannya meliputi berbagai bidang,seperti: filsafat,psikologi,sosiologi,kedokteran,gender,kritik sastra,dan kritik kebudayaan.Keragaman tersebut dikemukakan dalam sejumlah bukunya, diantaranya: Madness and Civilization (1961), The Birth of the Clinic (1963). The Order of Things (1966),The Archeology of Knowledge (196),Discipline and Punish (1975), dan The History of Sexuality (1976).

5.4.2.11 Jean-francois Lyotard

Lyotard (1924-1998) lahir di Versailles,Perancis Reputasi intelektual Lyotard (Sarup,2003: 231-232) menjadi popular dengan penerbitan bukunya yang berjudul the Postmodern Condition (1979) dan The differend:Phrases in dispute (1983),yang intinya menolak legitimasi narasi besar modernism.Di antara tokoh-tokoh postrukturalisme, Lyotard-lah yang paling serius menampilkan argumentasi mengenai narasi-narasi besar.

5.4.2.12 Jean Baudrillard

Sebagai salah seorang tokoh postrukturalisme,konsep-konsep dasar Baudrillard (Ritzer,2003:132-139) dipengaruhi oleh semiotika,phisikoanalitic,dan markisme.Baudrillard menjadi terkenal karena ia mengembangkan teorinya dalam kaitanya dengan komunikasi masa.kekhasan Baudrillard (Sarub,2003:286-287) adalah usahanya dalam mengembangkan teori produksi dengan memusatkan perhatian pada masalah konsumsi yang didasarkan atas semiotika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: