Mitos Negeri Gajah Putih

6 May

Setiap warga Thailand pasti mengenal legenda Mae Naak Phra Khanong. Cerita rakyat ini sangat mengerikan dan biasanya dikisahkan oleh ibu-ibu di malam hari supaya anak mereka tidak nakal.

Bila anak-anak tetap membandel, muncul ancaman yang bikin merinding bulu kuduk, yaitu arwah Nang Nak akan memakan otak mereka. Namun, siapa dan seperti apakah sosok hantu paling terkenal di Negeri Gajah Putih itu?

Berdasarkan situs bangkokguidebook.com, Nang Nak adalah nama seorang perempuan yang tinggal di wilayah Phra Khanong, sebuah desa di pinggir Ibu Kota Bangkok. Dia hidup ratusan tahun lampau pada masa kerajaan. Nak hidup bersama suami tampan bernama Nai Maak. Mereka awalnya hidup bahagia, bahkan perempuan itu mulai hamil.

Sayang, kehidupan damai dua petani itu runyam gara-gara Maak ikut serta berperang melawan kerajaan tetangga. Nak tinggal sendirian selama beberapa bulan.

Nyaris dua tahun, Maak akhirnya kembali dari medan tempur. Dia merasakan keanehan, karena penduduk desa seakan tidak mengenalnya. Nak menyambut dia dengan seorang bayi perempuan. Kehidupan normal sepasang kekasih itu seakan kembali.

Rupanya semua itu hanya ilusi arwah penasaran. Nak meninggal saat melahirkan bersama dengan bayinya. Karena cintanya pada Maak, dia menjadi setan gentayangan dan menipu sang suami agar merasa semua baik-baik saja.

Salah satu tetangga mengetahui itu dan mencoba memberi tahu Maak, tapi langsung dibunuh oleh hantu Nak. Pembunuhan berantai pun terus terjadi, terutama menimpa mereka yang ingin mengungkap identitas asli Nak selaku arwah gentayangan.

Maak lama-lama menyadari istrinya hantu. Dia pun melihat kondisi rumahnya yang tampak rapi dan indah sebetulnya porak poranda dan tidak terawat.

Dibantu seorang biksu saleh, arwah Nak yang posesif pada sang suami akhirnya ditaklukkan. Arwah gentayangan itu diubah menjadi sebuah bros yang konon sampai sekarang disimpan keluarga kerajaan di Thailand.

Meski hanya sebuah legenda, rakyat Thailand percaya dengan kekuatan hantu Nak. Bahkan di Distrik Wat Mahabut, Bangkok, ada sebuah kuil khusus untuk memuja setan perempuan ini. Bila dibandingkan dengan demit Indonesia, bisa dibilang Nang Nak serupa Nyi Blorong atau Nyai Roro Kidul.

Kisah seram sekaligus tragis Nak makin terkenal karena diadaptasi dalam banyak kesenian. Mulai dari tarian, novel, film, termasuk serial televisi yang pernah tayang di Indonesia.

Mengelola Majalah Dinding di Sekolah

3 Jun

Morning Sahabat akademia saya sharing ilmu lagi yah, kali ini mengenai majal dinding, ok menurut Masri (2006: 1-3) menjelaskan bahwa pengelolaan majalah dinding sekolah yang baik itu secara sedrhana mencakup dua hal; yakni manajemen organisasi dan redaksional. Majalah dinding sebagai organisasi intra sekolah mutlak memerlukan manajemen baik. Manajemen organisasi mencakup bidang usaha dan tata usaha. Tugasnya adalah membantu kelancaran penerbitan majalah dinding sesuai periode terbit. Bidang inilah yang mengatur keungan, administrasi, sponsorship. Bagian ini dipimpin oleh seorang pemimpin umum, dibantu oleh beberapa bagian atau seks, seperti bagian administrasi, keuangan, dan lain-lain sesuai kebutuhan majalah dinding. Bagian administrasi bertugas membantu kelancaran administrasi, misalnya surat-menyurat. Bagian keuangan bertugas mengatur sirkulasi keuangan majalah dinding, dan lain-lain.

Bagian redaksional merupakan bagian yang mengurus materi pemberitaan majalah dinding. Bagian ini dipimpin seorang pemimpin redaksi yang bertanggung jawab atas pekerjaan yang terkait dengan pencarian dan pelaporan berita. Bagian ini senantiasa disibukkan dengan rapat yang menentukan informasi kelayakan. Keredaksian harus diisi oleh orang-orang yang mempunyai pemahaman baik terhadap teknik menulis.

Struktur redaksi terdiri atas pemimpin redaksi, redaktur pelakasana, staf redaktur, dan reporter. Pemimpin redaksi bertanggung jawab atas isi majaah dinding. Redaksi pelaksana akan menoordinir tugas keredaksiaan melalui para redaktur. Redaktur member tugas liputan kepada repoter, setelah itu melakukan editing atas tulisan reporter sekaligus menentukan kelayakan tulisan untuk diterbitkan. Adapun reporter bertugas mencari berita di lapangan, baik ditugaskan oleh redaktur maupun atas inisiatif sendiri.

Mutu majalah dinding sangat ditentukan oleh isi dari majalah dinding itu sendiri. Isi majalah dinding pun perlu direncanakan secara matang oleh pengelola, khususnya bagian redaksi. Perencanaan keredaksian ini dapat dimulai dari perencanaan liputan yang bersumber dari reporter, redaktur atau bahkan pemimpin redaksi. Perencanaan ditentukan dalam sebuah rapat yang disebut rapat redaksi. Dlam rapat bersama akan terungkap hal-hal sebagai berikut.

1)   Idea atau gagasan liputan

2)   Penentuan sudut pandang topik

3)   Dead line berita

Berkaitan dengan peliputan bahan maka beberapa hal yang perlu diketahui sebagai berikut.

1)   Persiapan Reporter

Adapun peralatan yang harus dipersiapakan ketika akan meliput berita, antara lain, tape recorder, alat tulis, kamera, dan lain-lain.

2)   Sumber Berita

Sumber berita yang dapat digunakan untuk majalah dinding, yaitu studi pustaka, dan pakar atau pengamat.

3)   Waancara

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan wawancara sebagai berikut.

a)    Etika dalam wwancara

b)   Berita harus diperoleh secara etis dan terbuka

c)    Etika wawancara melalui telepon

Di dalam majalah juga terdapat jadwal terbit. Jadwal terbit ini biasanya dapat bersifat mingguan. Jadwal terbit ini harus dilakukan secara konsisten. Pemilihan jadwal dan periode terbit dilandasi oleh kemampuan pengelola dan memenuhi besar halaman yang ada pada majalah dinding. Setelah majalah dinding selesai diterbitkan maka segenap pengelola harus melakukan evaluasi sehingga dapat dijadikan sebagai perbaikan.

Wawan (2009: 1) menjelaskan pula bahwa di dalam pengelolaan majalah dinding ada sebuah forum di dalam redaksi. Adapun hal-hal yang perlu dibahas sebagai berikut.

1)        Waktu Terbit

Waktu tebit majalah dinding perlu menjadi bahan diskusi, Haini disebabkan ada beberapa alasan. Salah satunya agar pelaksanaan kegiatan pembuatan majalah dinding tidak mengganggu waktu belajar. Waktu terbit rutin majalah dinding sebaiknya diperhatikan sedemikian rupa sehingga majalah bias terbit secara rutin dan waktu terbitnya jga tepat. Pergantian majalah dinding sebaiknya jangan terlalu cepat ataupun terlalu lama sebab apabila majalah dinding diganti terlalu cepat barangkali belum sempat dibaca oleh orang lain.

2)        Tema

Majalah dinding yang diterbitkan sebaiknya memiliki tema yang berbeda-beda untuk setiap kali terbit. Hal ini dimaksudkan agar pembaca tidak bosan dengan satu tema yang disajikan dan diharapkan dapat menambah wawasan para pembaca tentang tema-tema yang disajikan.

3)        Jadwal Kerja

Dalam pelaksanaan kegiatan pembuatan majalah dinding, penjadwalan merupakan suatu yang harus dibuat apabila majalah dinding dapat terbit tepat waktu dengan hasil yang memuaskan.

4)      Pengumpulan Materi

Pengumpulan materi merupakan tugas seseorang reporter. Materi yang dapat ditampilkan dalam majalah dinding dapat bersumber darimana saja.

5)      Pemilihan Materi

Materi yang diperoleh bias saja sangat banyak atau lebih dari cukup untuk mengisi majalah dinding atau mungin juga materi-materi yang diperoleh kurang layak untuk ditampilkan. Oleh karena itu, tim redaktur harus melakukan pemilihan materi yang bias dimuat atau dapat diterbitkan.

6)      Editing

Setelah melakukan pemilihan  materi maka langkah selanjutnya adalah melakukan proses editing terhadap tulisan, gambar, atau pun foto yang akan dimuat di dalam majalah dinding. Proses editing terhadap tulisan perlu dilakukan untuk mengurangi bahkan memperbaiki kesalahan penulisan.

7)      Evaluasi

Setelah majalah dinding diterbitkan dan dibaca oleh khlayak maka ada baiknya tim majalah dinding melakukan evaluasi, baik berdasarkan pengamatan maupun berdasarkan hasil kuosioner pembaca. Penilai-penilaian kritik dan saran dari pembaca dapat dijadikan modal perbaikan di masa yang akan dating.

8)      Keberlanjutan Majalah Dinding

Pengelolaan majalah dinding sekolah dapat berjalan dengan baik apabila mempunyai tim yang solid dan setiap saat dapat diberikan pembinaan atau apresiasi dari pihak sekolah

Ketidakadilan Gender (Bagian II)

2 Jun

a.  Gender dan Marginalisasi Perempuan

Bentuk manifestasi ketidakadilan gender adalah proses marginalisasi atau pemiskinan terhadap kaum perempuan. Ada beberapa mekanisme proses marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender. Dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, tetapi juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat bahkan negara.

b.  Gender dan Subordinasi

Subordinasi adalah sebuah anggapan tidak penting dalam keputusan politik. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional, sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin dan berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Perempuan diidentikkan dengan jenis-jenis pekerjaan tertentu. Bentuk subordinasi terhadap perempuan yang menonjol adalah bahwa semua pekerjaan yang dikategorikan sebagai reproduksi dianggap lebih rendah dan menjadi subordinasi dari pekerjaan produksi yang dikuasai kaum lelaki (Sugiarti 2002:16-17).

c.  Gender Streotipi

Salah satu pangkal ketidakadilan terhadap perempuan bermuara dari stereotip yang cenderung merendahkan, yang ditujukan pada perempuan. Pandangan ini sering berpangkal dan mendapat pembenaran dari tradisi budaya dan pemahaman keagamaan yang hidup dalam masyarakat (Fayumi dkk 2001: 82).

Menurut La Pona dkk (2002:71) stereotype adalah konsep yang berkaitan dengan konsep peran, tetapi berbeda. Stereotype dapat dilukiskan sebagai gambaran dalam kepala kita dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok.

Stereotipi adalah pelabelan terhadap suatu kelompok atau jenis pekerjaan tertentu. Stereotipi merupakan bentuk ketidakadilan. Secara umum stereotipi merupakan pelabelan, ini selalu berakibat pada ketidakadilan, sehingga dinamakan pelabelan negatif. Hal ini disebabkan pelabelan yang sudah melekat pada laki-laki, misalnya laki-laki adalah manusia kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Kenyataannya perempuan adalah makhluk yang lembut, cantik, emosional, atau keibuan.

Dengan adanya pelabelan tersebut tentu saja akan muncul banyak stereotip yang oleh masyarakat termanifestasikan sebagai hasil hubungan sosial tentang perbedaan lelaki dan perempuan. Oleh karena itu, perempuan identik dengan pekerjaan-pekerjaan di rumah, maka peluang perempuan untuk bekerja di luar rumah sangat terbatas, bahkan ada juga yang berpendidikan tidak pernah menerapkan pendidikannya untuk mengaktualisasikan diri. Akibat adanya stereotipi (pelabelan) ini banyak tindakan yang seolah-olah sudah merupakan kodrat. Misalnya: karena secara sosial budaya laki-laki dikonstruksikan sebagai kaum yang kuat, maka laki-laki mulai kecil biasanya terbiasa atau berlatih untuk menjadi kuat. Perempuan yang sudah terlanjur mempunyai label lemah lembut, maka perlakuan orang tua mendidik anak seolah-olah memang mengarahkan untuk terbentuknya perempuan yang lemah lembut (Sugiarti 2002:17-18).

d.  Gender dan Kekerasan terhadap Perempuan

Kekerasan (violence) adalah suatu serangan (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap manusia ini sumbernya macam-macam, namun ada salah satu jenis kekerasan yang bersumber anggapan gender. Kekerasan ini disebut sebagai “gender-related violence”, yang pada dasarnya disebabkan oleh kekerasan. Gender-related violence ini merupakan berbagai macam bentuk kejahatan yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan gender, yang dilakukan baik ditingkat rumah tangga sampai-sampai di tingkat negara, bahkan tafsiran agama (Sugiarti 2002:18).

Jika diperhatikan, kekerasan yang terjadi pada perempuan merupakan kekerasan yang disebabkan adanya keyakinan gender. Bentuk kekerasan ini terjadi antara laki-laki terhadap perempuan, antara perempuan dengan perempuan atau bahkan antara perempuan dengan laki-laki. Meskipun demikian perempuan menjadi lebih rentan karena posisinya yang pincang di mata masyarakat baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Posisi perempuan pada umumnya dianggap lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Kekerasan terhadap perempuan sering terjadi karena budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan. Kekerasan digunakan oleh laki-laki untuk memenangkan perbedaan pendapat, untuk menyatakan rasa tidak puas, dan sering hanya untuk menunjukkan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Pada dasarnya kekerasan yang berbasis gender adalah refleksi dari sistem patriarkhi yang berkembang di masyarakat (Sugiarti 2002:19).

e.  Gender dan Beban Kerja

Adanya anggapan bahwa kaum perempuan bersifat memelihara, rajin, dan tidak akan menjadi kepala rumah tangga, maka akibatnya semua pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab kaum perempuan, sehingga perempuan menerima beban lebih banyak, selain harus bekerja membantu mencari nafkah. Bagi golongan kelas atas, beban kerja ini kemudian dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga (domestic workers). Mereka inilah yang sesungguhnya menjadi korban dari bias gender di masyarakat. Mereka bekerja berat, tanpa perlindungan dan kebijakan negara. Selain tanpa perlindungan hubungan mereka bersifat feodalistik dan pembudakan, serta masalahnya belum bisa secara transparan dilihat oleh masyarakat.

Ketidakadilan Gender (Bagian I)

2 Jun

Perbedaan gender telah melahirkan perbedaan peranan sosial. Untuk kehidupan publik juga tidak jauh berbeda, perempuan menjadi subordinasi laki-laki. Setiap keputusan penting yang akan diambil perempuan tidak pernah terlibat di dalamnya, dan pengambilan keputusan penting akan senantiasa menjadi hak laki-laki (Mutali’in 2001:31-32) Fakih (2001:32). Karir perempuan pun bergantung pada laki-laki. Izin dari suami diperlukan untuk menduduki jabatan atau mengemban tugas tertentu. Sebaliknya hampir tidak ditemukan ketentuan yang dikenakan pada suami untuk minta izin dari istrinya ketika akan dipromosikan pada kedudukan atau tugas tertentu. Perbedaan genre sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities).

Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, bagi kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana kaum perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender, dapat dilihat melalui berbagai manifestasi ketidakadilan yang ada.

Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negative, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burder), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender. Guna memahami bagaimana perbedaan gender telah berakibat pada ketidakadilan gender dapat dipahami melalui berbagai manifestasi ketidakadilan tersebut (Sugiarti 2002:16). Ketidakadilan yang terjadi dalam konstruksi gender saat ini terutama kaum perempuan, menjadi sebuah masalah yang disebabkan adanya marginalisasi, sterotipi, subordinasi, kekerasan dan beban kerja lebih berat. Semua itu akan menimbulkan berbagai macam penderitaan kaum perempuan dalam memenuhi hak mereka. Uraian mengenai masing-masing manifestasi ketidakadilan gender, yaitu Marginalisasi, Subordinasi, Sterotipi, Violence, dan Beban Kerja Lebih Berat.

Novel “Mata Bulan”

2 Jun

Malam itu Saat semua mata telah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing, Sinar bulan menunjukan sebuah cahaya bersiluet merah jingga, dari sudut timur hutan tampak sepasang mata memandang nanar ke dalam sebuah rumah yang nampak rapuh tak terawat, dengusan nafasnya tersengal tak teratur, air liur terus menetes dari belahan gigi yang tampak tajam tak teratur. Suasana perkebunan tampak lenggang dan temaram, satu-satunya cahaya yang paling terang adalah sebuah lampu 5 watt di pinggir perkebunan teh. Terdengar suara kaki terseret dari belakang hutan yang berbatasan dengan rumah mandor Kardi, yang nampak sudah terlelap dalam tidur lelapnya. Malam ini Sang Macan Alas Randu kembali beraksi, satu nyawa akan melayang malam ini, Warga desa pantas mendaptkannya semua pantas Mati….. Penggalan Novel “Mata Bulan” yang saya buat Semoga dapat Mewarnai Dunia Penulisan Sastra Saat ini. Saya ingin mengangkat lagi Karya Novel Fiksi Misteri yang semoga mengingatkan kita akan karay2 pada era tersebut ^^

Tips Mempersiapkan Studi ke Luar Negeri

1 Jun

Selamat Pagi kawan akademia dimanapun engkau berada, diseluruh pelosok Nusantara, pada kesempatan ini saya ingin memberikan beberapa tips untuk agan yang ingin melanjutkan studi di luar negri, coz banyak sekali email yang masuk menanyakan bagaimana langkah-langkahnya, disimak ya gan beberapa tips dari ana ^^

1. Persiapkan Nilai Toefel anda ataupun Ielts dengan score 550/6,5 (wajib gak ada tawar gan) ^^

2. Segera cari informasi Universitas yang memiliki program studi yang sama dengan Keinginan atau Jurusan anda (Peraturan sekarang harus linier bro/sis jika S1 anda akutansi akan lebih baik S2 pun akutansi).

3. Cari kantor cabang di negara anda sebagai pusat pendaftaran, atau kalau tidak ada cari email universitas terkait.

4. Jika ingin meringankan biaya anda selama studi cari beasiswa yang dapat membantu anda.

5. siapkan pasport dan visa jangan lupa itu ^^

6. Buat proposal rancanan penelitian tesis anda beberapa universitas menjadikan itu sebagai syarat.

7. cari informasi kawan yang ada disana jika tidak ada cari informasi di kantor kedutaan negara kita..

Yupz itu beberapa tips dari ana semoga agan2 dapat segera menggapai cita2 agan semua dan jangan lupa banyak berdoa kepada Tuhan YME. semangat ^^

Beasiswa ADS Australia

26 May

Australian Development Scholarships

Australian scholarships

Australian Development Scholarships (ADS) are long term development awards administered by AusAID. ADS aim to contribute to the long term development needs of Australia’s partner countries in line with bilateral and regional agreements. They provide opportunities for people from developing countries to undertake full time undergraduate or postgraduate study at participating Australian universities and Technical and Further Education (TAFE) institutions.

The study and research opportunities provided by ADS develop skills and knowledge of individuals to drive change and contribute to the development outcomes of their own country.

Scholarship benefits

ADS are offered for the minimum period necessary for the individual to complete the academic program specified by the Australian higher education institution, including any preparatory training. The following benefits generally apply:

  • Full tuition fees.
  • Return air travel—payment of a single return, economy class airfare to and from Australia, via the most direct route.
  • Establishment allowance—a once only payment of A$5,000 as a contribution towards as accommodation expenses, text books, study materials.
  • Contribution to Living Expenses (CLE) is a fortnightly contribution to basic living expenses paid at a rate determined by AusAID. From 1 January 2012, CLE payable to Scholars studying under an ADS is A$28,000 per year.
  • Introductory Academic Program (IAP)—a compulsory 4-6 week program prior to the commencement of formal academic studies covering information on life and study in Australia.
  • Overseas Student Health Cover (OSHC) for the duration of the award (for award holder only)—provided to cover the student’s basic medical costs (with the exception of pre existing conditions).
  • Pre-course English (PCE) fees—if deemed necessary PCE may be available for students for in-country and/or in-Australia training.
  • Supplementary Academic Support may be available to ensure a Scholar’s academic success or enhance their academic experience.
  • Fieldwork (for research students only)—may be available for eligible research students for one return economy class airfare via the most direct route to their country of citizenship or within Australia.

Scholarship conditions

Applicants who want to accept an AusAID Scholarship will need to sign a contract with the Commonwealth of Australia declaring that they will comply with the conditions of the Scholarship.

Awardees are required to leave Australia for a minimum of two years after completing their Scholarship. Failure to do so will result in the awardee incurring a debt for the total accrued cost of their Scholarship.

Bagi yang Berminat Tinggalkan no HP kalian ya di Kotak Inbox Facebook saya agar kita bisa saling membantu THz Gan ^^

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.