Cerpen Anak-anak


Misteri Hutan Dadapan

            Matahari mulai terbenam di ufuk timur, senja mulai menggantikan siang hari yang terik, begitupun burung-burung terlihat bergerombol kembali menuju sarang mereka. Diyah yang sering dipangil Iyah oleh teman-teman-nya tampak berjalan terburu-buru melewati hutan Dadapan yang sering ditakuti oleh diri nya dan teman-temannya karena banyak kabar yang mengatakan bahwa hutan Dadapan itu berhantu.

            Saat melewati hutan itu perasaan Iyah selalu berdebar-debar. Iyah melirik sekelilingnya sambil memepercepat langkah kakinya. Pohon-pohon yang tampak rimbun dengan semak belukar yang tak terurus. Dalam hati, Iyah berharap agar segera sampai ke rumah dan mendapatkan pelukan dari ayah dan ibunya. Iyah sebenarnya selalu berusaha untuk pulang melewati hutan Dadapan tidak lebih dari pukul tiga sore akan tetapi hari itu Bu Wati guru kelas dua SD Sendang Asih tempat sekolah Iyah, meminta bantuan Iyah untuk mempersiapkan diri mengikuti Lomba mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat Kabupaten yang akan dilaksanakan pekan depan. Oleh karena itu Iyah sering pulang lebih sore dari pada teman-teman-nya, karena mendapat bimbingan tambahan oleh Bu Wati.

            Sore itu tampak berbeda jalanan hutan tampak sepi, tak nampak satu warga desa Suka Tani yang biasanya hilir-mudik mengangkut hasil panen menuju kota, karena memang jarak antara desa Iyah dengan kota cukup jauh, jalan satu-satunya adalah melewati hutan Dadapan yang terkenal angker. Banyak orang yang mengatakan sering melihat bayangan hitam yang tampak berkelebat dari dalam hutan, bahkan ada yang mengatakan di dalam hutan Dadapan dihuni oleh monster raksasa. Namun sampai saat ini Iyah belum pernah menyaksikan sendiri bayangan ataupun monster yang sering dikatakan penduduk desa Suka Tani.

            Dari kejauhan mulai terlihat dua buah tugu dengan tulisan selamat datang di desa Suka Tani, Iyah bernafas lega “Hufh.. Akhirnya Sudah sampai Juga” ucapnya. Kriekk…Kriekk… Tiba-tiba sekumpulan pohon bambu yang tumbuh di pinggir desa saling bergesekan tertiup angin yang menghembus dari arah hutan. “Duh.. Kenapa jadi serem gini sih?” keluhnya. Ditambah sinar matahari senja yang sudah mulai meredup, sehingga menciptakan bayangan-bayangan pohon yang nampak bergerak-gerak karena tertiup angin. Sejenak Iyah terpaku oleh suasan mistis yang membuat kakinya entah mengapa tidak dapat digerakan. Iyah, mulai ketakutan, seketika, bulu kuduknya pun meremang. Kreserek…kreserek.. terdengar bunyi langkah kaki yang terseret oleh daun yang berguguran tertiup angin. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam hutan. “Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapnya nyaris berbisik. Ia pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari hutan yang menyeramkan itu.

            Esok harinya, Iyah kembali melewati hutan Dadapan saat perjalanan berangkat menuju sekolahnya. Kali ini Iyah bersama Santi sahabat karibnya sejak Iyah masih kecil sampai sekarang duduk di kelas VI SD Sendang Asih. Tanpa sengaja dalam perjalanan, Ia mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ia mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. “Mungkin dari dalam hutan” Pikir Iyah. Karena penasaran, dengan berjingkat ia berniat mendengarkan pembicaraan orang tersebut. Sebelum masuk ke dalam hutan Iyah berpesan kepada Santi sahabatnya agar berangkat terlebih dahulu menuju sekolah.“Awas,hati-hati! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang. Tampaknya ada lebih dari satu orang yang terlibat di dalam pembicaraan tersebut, Iyah pun terus berdiri di balik pohon Beringin tua yang memiliki batang lebar sehingga dirinya tidak terlihat, sambil menempelkan daun telinganya di pinggir pohon. Tiba-tiba… suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat.

            Sebelum Iyah tersadar dan pergi, suara kaki itu telah berputar dengan cepat. Dua orang berjalan membelakangi dan membentur sisi pohon yang ada tepat di sampingnya. Iyah begitu terkejut dan merasa degup jantungnya berdetak dua kali lebih bahkan lima kali lebih cepat.“Siapa Disana?” Teriak seseorang dengan raut muka penuh tanya. Rupanya Iyah selamat dari dua orang tak di kenal tadi. Ia nyaris tertangkap, jika seandainya ia tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik semak ilalang yang tumbuh rimbun di samping rumpun pohon bambu yang cukup banyak terdapat di hutan Dadapan.

            Iyah kemudian berlari menjauh dari tempat tersebut, tiba-tiba terdengar suara Gedubrak..sayang kakinya tersandung akar pohon yang melintang, Iyah pun terjatuh, dan dengan cekatan bangkit dan berlari kembali. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok Iyah dari belakang. “Gadis kecil berseragam sekolah SD. Mungkin kelas 5 atau 6”. Lapor sang pengejar Iyah kepada seseorang yang lain.“Sepertinya tidak masalah!” Sahut rekan orang tersebut, acuh tak acuh. Tidak seperti perkiraan mereka. Iyah adalah gadis yang tergolong kecil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada Iyah. Karena sebenarnya, Iyah berumur 11 tahun atau kelas 6 tepatnya.

            Waktu menunjukan pukul enam lebih tiga puluh menit, dengan terengah-engah Iyah masuk ke dalam kelas dan memposisikan diri duduk di sebelah Santi,“Yah.. Kenapa kamu kayak habis di kejar Setan jaa..” Tegur Santi, melihat sahabatnya mengambil nafas berkali-kali. “San.. Aku baru saja melihat hal yang mencurigakan, di dalam hutan Dadapan” ujar Iyah. “Apa Yah?” Balasa Santi penuh tanda Tanya. Teng…Teng.. Tanda bel mulai pelajaran berbunyi, “Entar sepulang sekolah ku ceritakan di rumah mu San..” Balas Iyah, “Oke” ujar Santi dengan wajah semangat dan mengacungkan jempolnya.

            Di rumah Santi…“Eh San, kamu tau gubuk yang di tengah hutan bambu di sana?” Tunjuk Iyah ke arah Barat Laut.“Emang kenapa?” Santi balas bertanya. “kenapa dengan hutan Dadapan ?” lanjutnya lagi. “Aku curiga deh!” “Sama siapa?” Santi menautkan alisnya karena penasaran.“Gini San..” Iyah pun mulai menceritakan semua yang di dengarnya pada Santi, teman baiknya.“Hah? Yang bener Yah?” Santi memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke Pak Lurah Yah”. Iyah langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Santi. “eeh.. ya jangan gitu. Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapnya dengan logat medok anak Jogja.“Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Santi.“Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Santi beraksi dengan gaya sok polisinya. Ia memang pernah mencita-citakannya.

            Teottt…Teott..Teott..Suara gesekan pohon bambu malam itu menghiasi langkah kecil mereka berdua, Suara gesekan angin yang menggesek daun dan keheningan malam menyelimuti Iyah dan Santi di dalam hutan Dadapan. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang tua mereka dengan alasan mengerjakan tugas kelompok. “Kang, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh lima. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping gubuk tua. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam.Iyah melihat ke atas langit tampak mendung sehingga sinar bintang tak begitu terang menerangi langkah kedua gadis kecil pemberani tersebut. Hal ini mendukung langkah mereka berdua, karena dengan suasana seperti ini aksi detektif mereka tidak akan gampang terlihat. “Eh Yah, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Santi seraya menunjuk sisi lain dari gubuk itu.

            Mereka tidak sadar apa yang ada di belakang mereka. Sebuah tebing yang cukup curam dan licin tanahnya. “Aaah..Tolong aku Yah” Terdengar pekik tertahan dari samping Iyah. Iyah pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat Santi terpeleset nyaris terjatuh dari atas tebing. Dengan sigap, Iyah menangkap tangan Santi dan ia pun berpegangan pada sebuah Dahan pohon Mati yang cukup kuat untuk menahan tubuh kedua gadis kecil tersebut. “Krekkk..” Iyah dan Santi berhasil lepas dari musibah yang hampir menimpa ia dan temannya tersebut. Mereka berdua segera menjauh dari tepi tebing. Dan kini mereka mendapati sebuah gua yang agak kecil mengarah landai, menukik ke dalam gua yang gelap. “Mungkin ini adalah salah satu pintu rahasia” sergah Santi, “Mungkin” Balas Iyah dengan sedikit ragu. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam gua kecil tersebut, karena ruangan yang cukup gelap, mereka harus berjalan berhati-hati agar tidak terjatuh. Begitu mereka sampai di dasar lorong, mereka mereka menyalakan lampu senter yang sudah mereka persiapkan dari rumah, saat lampu dinyalakan terkejutlah mereka melihat hal-hal yang selama ini belum pernah mereka lihat. Tumpukan dedaunan kering dan serbuk putih tampak berjejer dengan bungkusan yang cukup rapi. Mereka belum yakin benda apa itu.”Ya Tuhan…!” Iyah menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Santi pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda tersebut adalah barang terlarang narkotika, yang selama ini sering dijelaskan oleh Bu Wati mengenai jenis-jenis narkotika. Salah satunya adalah Ganja dan Putau itu yang Iyah ingat, karena ingatannya saat ini tidak dapat berjalan dengan baik saat Ia menyaksikan sendiri barang-barang terlarang tersebut tertata rapi di depan matanya. Iyah, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”       Kemarin, Iyah bercerita bahwa ia mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik gubuk samping tempat Iyah mencuri dengar kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia besar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… entah apa namanya. Setelah mereka merasa berhasil, mereka segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak Lurah. Karena atas apa yang di dengar Iyah, mereka akan mengangkut semua barang haram itu esok. Tiba-tiba di ujung gua, Santi di kejutkan oleh dua orang berbadan tegap yang menghadang.“Ayo San, kenapa berhenti? Di sini Seram nih. Pengen cepet keluar” Desak Iyah dari belakang Santi. Namun Santi tetap tak bergeming dan tak mengucap sepatah katapun.“Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Santi keluar, dan segera mencengkran tangan Iyah dengan kuat. Iyah, yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan meronta mencoba melepaskan diri.

            Sekarang, mereka menjadi tahanan para penjahat itu. Sinar Matahari telah masuk ke dalam celah-celah gubuk tempat Santi dan Iyah disekap oleh para penjahat tersebut. Iyah dan Santi pun dalam keadaan yang tidak menguntungkan dengan tangan terikat ke belakang. Mereka sangat kebingungan. Iyah sempat menangis menyebut-nyebut nama simbok dan bapaknya di rumah. Santi juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan. Waktu telah berlalu. Kini, jam dinding rumah Iyah telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapaknya kebingungan karena tidak melihat Iyah sedari pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya.

            Dog..Dog..dogg!!! Suara pintu di gedor dengan keras. Bapak dan emak segera berlari keluar denggan cemas.“Nak Bayu? Ada apa?” Tanya emak Iyah kebingungan.“I..i-tu.. bu. Mbak i..iyah sa..ma mbak Santi dalam bahaya” Ucap bayu, adik Santi terbata-bata.“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat emak panik seperti ini!” “Lebih baik, emak dan bapak ikut dengan saya”. Mereka punberjalan setengah berlari ke arah gubuk tua di dalam hutan Dadapan yang terpercaya angker. Ternyata,di sana telah ada pak Lurah dan orang tua Santi. Juga para penduduk desa. Dan dari dalam gubuk, polisi-polisi keluar sambil menggiring orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol. Tiba-tiba.. “Emaakk..” Tangis Iyah pun pecah lagi. Ia segera berlari memeluk emak dan bapaknya.

            Pak Kades mengambil alih perhatian. “Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini mereka sengaja menciptakan suasana mistis di hutan Dadapan ini agar tidak banyak orang yang berani masuk ke dalam hutan, untuk menutupi aksi jahat mereka.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk gua itu.

            Esoknya..“Bayu, kok kamu bisa tau sih kami di sana?” Tanya Iyah saat ia bermain ke rumah Santi. “Maaf Yah, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. Maaf ya!” Ucap Santi dengan perasaan bersalah“Nggak papa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya. Dan Sekarang, Desa tempat Iyah dan Santi tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan hutan Dadapan malah sekarang banyak warga yang mulai mengembalakan ternak mereka di sana.

Selesai….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s