Mengenali Virus Kita


Mengenali virus? Dalam benak kita pasti terfikirkan berbagi jenis virus dari  virus computer, virus trojan, virus influensa, atau virus merah jambu dan lain-lain. Sayang nya kali ini bukan virus seperti itu melainkan virus dari judul di atas adalah nama virus adalah panggilan untuk sang rektor dalam film Three Idiots. Paham kan, nah saat ini kita telah memasuki sebuah era baru dari sosok pemimpin baru kampus kita. Eitsss salah pemimpin lama yang terpilih kembali sebagai Rektor Universitas Negeri Semarang. Nah sudah pada kenalkah, anda dengan sosok pemimpin baru kita? Atau sudah pahamkah kita dengan visi misi yang akan beliau terapkan di kampus kita.

Nah sebentar lagi ni akan ada sebuah acara yang tidak kalah pentingnya bagi kita semua mahasiswa Unnes, yup acara itu adalah penyaringan dan pemilihan bakal calon pembantu rector kita. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk paham dan sadar bahwa ini adalah salah satu moment yang tepat untuk merubah sistem kekuasaan di kampus kita. Nah ingat kah anda dengan  Jojon sang Pelawak? Ya, gaya Jojonlah yang direpresentasikan sang Rektor tempat 3 idiot kuliah. Celana kombinasi Hitler menciut dan ban pinggang di atas perut menutupi perut gendutnya! Bedanya, Jojon bikin ketawa sementara Virus membuat para mahasiswa hilang nyali, hilang kreasi atau kreasi yang tak terakui, dan banyak karenanya mahasiswa bunuh diri, tak terkeculi Rastugi yang di letakkan pada dilema memilih diri dikeluarkan atau Rancho si tokoh sentral yang turut serta saat Rastugi mengencingi rumah sang rektor “Virus”. Dan dilema inilah yang  membuat Rastugi mengambil jalan pintas (seperti fitur cepat dalam HP dan jalan pintas sekarang menjadi trend dibanding kualitas sebuah produk) untuk bunuh diri! Untunglah sang “Sutradara tidak menghendaki Rastugi Mati” karena akan kehilangan moment cerita dan cukup koma dalam jangka waktu pendek, karena justru menimbulkan isi cerita yang lebih menggoda!

Memang hanya sebuah film tentang perilaku tiga tokoh sentral yang membuat  atau menggoyang sistem kediktatoran ala Virus selama 32 tahun (ah seperti kekuasaan Suharto saja), dan faktanya goyah juga karena ternyata masih memiliki hati nurani. Bagaimana dengan kampus kita? Apakah pemimpin kita juga mempunyai hati? Virus, rektor diktator yang super keras tetapi jenius, pemarah tetapi pekerja keras yang disiplin, tidak mengenakkan tetapi ia menginginkan mahasiswanya pintar, bahkan ia contoh rektor yang tidak mengenal korupsi, karena meskipun ia seorang rektor masih mau  naik sepeda onthel”, tentu sulit kita menemukan rektor dari ratusan bahkan ribuan perguruan tinggi di Indonesia yang “Rektornya Naik Sepeda”, sepeda motorpun tentu sudah tak ditemukan, kecuali perguruan tinggi kecil yang baru berdiri dan ia bukan kerabat pemilik yayasan atau pemilik modal. Atau malah sudah berganti dengan mobil mewah yang nyaman dan aman.Penampilan keras, disiplin, orientasi penyerapan ilmu, memperoleh kerja bagus, inilah  style yang ditampilkan oleh Virus sang “Rektor di 3 Idiots”.

Ia memang tak mau tersaingi, bahkan sampai naik sepeda pun dia tak mau disalip! Tak apalah tak mau dilampaui untuk hal kebaikan atau perbuatan mulia, tentu bukan masalah. Bahkan berlomba dalam kebaikan, wajib hukumnya! Itulah salah satu yang tak disukai mahasiswa yang terpaksa peras otak karenanya, tapi tak mengapa toh tetap membuat mahasiswa mengasah kecerdasannya, meskipun ada yang tidak tahan tekanan. Ia tak mau KKN, meskipun anaknya sendiri yang mendaftar ke kampus itu tiga kali mendaftar dan tiga kali tidak diterima, akhirnya sang anak “Bunuh Diri”, hebatnya di hari berikut si Virus sudah mulai bekerja lagi. Apakah ia tak memiliki hati? Apakah ia tak bisa menangis? Ternyata tidak!, karena ia pun akhirnya kalah dengan hatinya sendiri! Di disinilah kekurangan Virus! Sisi humanisme  yang sering diabaikan oleh Virus. Ia menganggap semua mahasiswanya kuat terhadap tekanan, memiliki mental Taftness, strunggle, memiliki adeversity (ketahan malangan) yang tinggi, ia bahkan gagal berkaca, anaknya puntak memiliki mental kuat dan akhirnya bunuh diri! Pada aspek  inilah yang perlu dipompakan ke Virus!

Dia memang sangar, tapi itu karena kekerasan pendapatnya dan ketaatannya pada aturan yang tentu dia sendiri yang membuat dan ia anggap baik, karena memang belum ada yang menguji kebaikan aturan itu! Ia seperti bukanlah manusia, sehingga unsur humanisasi hampir tidak terlihat, bahkan sampai mahasiswanya bunuh diri karena tidak mendapatkan tambahan waktu untuk lulus tahun itu, tak mampu meluluhkan sisi kemanusiaannya.

Ia juga memiliki kelemahan, ia mau melakukan kecurangan saat mencoba menjegal Rastugi untuk lulus ujian, meskipun Rastugi telah lulus dalam wawancara kerja (setelah Rastugi membuang seluruh ketakutan dan beban dalam pikirannya dan diwujudkan dalam berbagai ritualnya. Rastugi membuang keyakinan-keyakinan dan ketergantungan terhadap mistik-mistiknya). Puncak kemarahan Virus terjadi saat menemukan Rancholah si actor pencuri dan pengkopi naskah khusus agar Rastugi gagal (Meskipun Rastugi tak pernah memanfaatkan bocoran soal ujian).

Kembali ke kampus kita tercinta, bagamana sosok pemimimpin kita yang satu ini apakah sama dengan sosok virus dam film Three Idiots. Dari hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa di kampus kita, banyak dari mereka sangat menyesalkan beberapa kebijakan dan aturan yang di keluarkan oleh para pemimpin kita ini. Seperti contohnya, pengeluaran aturan penyeragaman dan penggunaan sepeda yang tidak melibatkan mahasiswa dalam pengembilan kebijakan, juga pembatasan agenda-agenda mahasiswa yang terlihat hanya sekedar untuk meningkatkan kapasistas otak kiri mereka, seperti penulisan karya tulis atau program-program wirausaha yang tidak memperhatikan sisi-sisi idialisme mahasiswa. Selain itu jika kita lihat dalam film Three Idiots sang virus mau naik sepeda onthel di dalam kampus, nah di kampus kita para pemimpin yang mengeluarkan kebijakan bersepeda atau berjalan kaki masih saja menggunakan mobil mewah mereka. Apakah ini yang menjadi contoh pemimpin yang baik.

Harapan yang lain yang sebenarnya diinginkan mahasiswa sebenarnya adalah adanya unsur demokratis yang lebih baik di kampus kita ini. Hal nyata yang sampai saat ini masih menjadi koreksi adalah kenapa tidak dilibatkannya mahasiswa dalam pemilihan rektor atau pembantu rektor di kampus kita. Padahal mereka yang saat ini menjadi pemimpin kita haruslah orang yang dekat dengan yang dipimpin, kalau mereka yang menjadi pemimpin tidak mengenal dengan yang dipimpin bagaimana kebijakan-kebijakan yang ada dapat dikatakan sebagai aspirasi mahasiswa, bisa saja itu hanya merupakan aspirasi dari mereka saja. Bagaimana mahasiswa mau mematuhi kebikan mereka jika sistem kediktatoran masih ada di kampus kita!

Sekarang coba kita bandingkan dengan sistem perkuliahan, ujian dan penilaian di kampus kita! atau sebagian besar kampus di Indonesia yang saat ini jauh lebih mudah mendapatkan nilai bagus, sayangnya kredibilitasnya yang dipertanyakan. Yang cerdas dan pandai bisa mendapat nilai A atau B, demikian pula yang jongkok dan idiot (sebenarnya) juga mendapatkan nilai A atau B. Kredibilitas angka ini yang di Indonesia atau di kampus kita menjadi pertanyaan, bahan tertawaan mahasiswa, pembicaraan ironis dalam setiap perbincangan.

Coba adakan survey di perguruan tinggi di kampus kita! Siapa dosen favorit? Akan muncul dosen jarang mengajar, jarang member tugas, dan yang menilai bagus (tentu tanpa pertimbangan akademik). Inilah dosen favorit mahasiswa kampus kita.

Virus sang Rektor, tidak semuanya merepresentasi kejelekan dalam mengajar dan mengelola kampus, toh dia justru mampu mendongkrak ranking dari rank 28 menjadi rank 1, dan membuat universitas terfavorit di India (memang hanya film lho!).

Setiap fenomena tentu ada makna. Virus memang keras seperti baja, tetapi ia manusia juga! Ketika Rancho berhasil membuat atau mengubah mesin pembersih debu menjadi mesin penyedot bayi dan si Mona melahirkan anaknya dengan selamat, sisi kemanusiaan manusia Virus pun muncul dan malah menghadiahkan pulpen kesayangan yang diperoleh karena kecemerlangannya waktu kuliah dihibahkan ke Rancho karena kecemerlangan pula.

Sisi manusiawi inilah yang perlu diketuk di hati para rektor killer tetapi benar. Yang penting adalah memberi jalan mahasiswanya memperoleh penyelesaian studi. Solusi adalah kata kunci, bukan sekedar menilai, karena disinilah moralitas yang bicara. Dan moralitas inilah virus sebenarnya di dunia pendidikan kita!

Pemimpin yang teguh pendirian, amanah dalam bekerja, mulai berkurang di negeri ini…. Dan inilah krisis pendidikan sebenarnya di Indonesia! Semua diukur dengan alat ukur “berapa pemasukan, berapa pendapatan, lebih banyak mahasiswa lebih bagus karena pendapatan kampus akan meningkat”

Virus kau masih terbaik!!! Tetapi sedikitlah berubah menjelma menjadi manusia!!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s