Pandangan Dunia Pengarang Dalam Novel “SAMAN” Karya Ayu Utami


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman manusia, baik dari aspek manusia yang memanfaatkannya bagi pengalaman hidupnya, maupun dari aspek penciptanya, mengekspresikan pengalaman batinya ke dalam karya sastra. Ditinjau dari segi penciptanya (pengarang dalam sastra tulis dan pawang atau pelipur lara dalam sastra lisan), karya sastra merupakan pengalaman batin penciptanya mengenai kehidupan masyarakat dalam kurun waktu dan situasi budaya tertentu. Di dalam karya sastra dilukiskan keadaan dan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa-peristiwa, ide dan gagasan, serta nilai-nilai yang diamanatkan pencipta lewat tokoh-tokoh cerita. Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai kehidupannya. Karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan serta zamannya (Zulfahnur dkk 1996: 254). Dikatakan oleh Abrams (dalam Pradopo 1995: 254) bahwa karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya.

Novel Saman karya Ayu Utami merupakan penggambaran kehidupan masyarakat saat novel tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, yang terjadi pada tahun 1990-an (http://www.forum.webqaul.com). Pemerintahan pada waktu itu di bawah kekuasaan Soeharto. Pada masa Orde Baru muncul konflik baru yang memanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuhan, pendekatan keamanan, dan hak azasi manusia (http://www.geoticies.com). Novel Saman merupakan gambaran peristiwa sengketaan tanah dan kerusuhan yang terjadi di Medan pada masa Orde Baru.

Peristiwa itu membawakan persoalan peka bagi masyarakat, yaitu akan diubahnya kebun karet menjadi kebun kelapa sawit. Akan tetapi masyarakat merasa tidak setuju dengan adanya perubahan ini. Hal ini mengakibatkan oknum penguasa di Sei Kumbang melakukan tindakan sewenang-wenang yaitu memaksa penduduk untuk melepaskan tanahnya. Mereka menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi pikiran petani, penduduk Sei Kumbang dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan membunuh. Pada masa itu juga terjadi kerusuhan yang disebabkan unjuk rasa buruh yang memunculkan wajah rasis. Pemerintah dalam menanggapi protes dan perlawanan dari rakyat dengan menggunakan cara kekerasan yaitu adanya aksi-aksi aparat keamanan atau militer yang membela kepentingan Soeharto, yang semakin brutal dan tidak terkendalikan. Tuntutan itu dijawab dengan pentungan, gas air mata, aksi penangkapan ilegal, penculikan dan penyiksaan (http://.geoticies.com).

Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat keamanan atau militer telah membuka hati para aktivis untuk mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dengan adanya LSM ini, bukannya membawa keadaan semakin membaik, tetapi LSM dianggap sebagai gerakan kiri atau gerakan yang melawan pemerintah. Pada masa rezim Soeharto, LSM selalu diidentikkan sebagai “agen dan antek asing”, “penjual”, dan “pengkhianat bangsa”. Peryataan ini dilakukan untuk mengurangi keberadaan LSM di mata rakyat, mengingat LSM saat itu adalah satu-satunya elemen masyarakat yang kritis terhadap pemerintah Soeharto. Posisi LSM dan rezim Soeharto selalu dalam posisi berlawanan. LSM telah dituduh berpolitik dan mengorganisasikan rakyat miskin. Maka, wajar bila pemerintah selalu mencurigai aktivis LSM. Pemerintah juga melakukan tindakan pengejaran dan penangkapan terhadap aktivis-aktivis LSM (http://www.kompas.com).

Selain itu novel Saman juga bercerita mengenai perjuangan seorang pemuda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang tertindas oleh negara melalui aparat militernya. Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Keempat tokoh perempuan dalam novel Saman antara lain Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin. Mereka muda, berpendidikan dan berkarir. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-pertanyaan mereka dalam mendefinisikan seksualitas perempuan (http://www.forum.webqaul.com).

Kemunculan novel Saman menjelang saat-saat jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998, sempat menghebohkan dunia sastra Indonesia karena isinya yang dianggap kontroversial, mendobrak berbagai tabu di Indonesia baik mengenai represi politik, intoleransi beragama, dan seksualitas perempuan. Ada pihak-pihak yang mengkritik novel tersebut karena dianggap terlalu berani dan panas dalam membicarakan persoalan seks. Banyak pula yang memujinya karena penggambaran novel tersebut apa adanya, polos, tanpa kepura-puraan.

Di tengah kontroversi itu, Saman berhasil mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta 1998. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami yang akan berjudul Laila Tak Mampir di New York. Pada tahun 2000, novel Saman mendapatkan penghargaan bergengsi dari negeri Belanda yaitu Penghargaan Prince Clause Award. Suatu penghargaan yang diberikan kepada orang-orang dari dunia ketiga yang berprestasi dalam bidang kebudayaan dan pembangunan. Novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Samans Missie, yang diluncurkan di Amsterdam pada 9 April 2001 dan dihadiri sendiri oleh Ayu Utami.

Ayu Utami merupakan salah satu pengarang wanita yang dinobatkan sebagai pemenang pertama dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta. Penobatan ini seperti telah menjadi perayaan terhadap “kebangkitan” pengarang wanita dalam khazanah sastra di Tanah Air. Kemenangan Ayu Utami tidak saja telah memberi kepercayaan diri kepada pengarang wanita lain untuk menerbitkan karya-karya mereka, tetapi secara substansif telah mendeskontruksi jarak yang tadinya terbentang antara pengarang dengan pembacanya.

Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968, besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia. Ia mengaku sejak kecil memang suka bahasa terutama bahasa yang aneh-aneh, eksotis. Bagi Ayu Utami dunia tulis menulis bukan hal yang baru. Sebelum menjadi penulis novel, ia pernah menjadi wartawan di majalah Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah Tempo, Editor, dan Detik di masa Orde Baru ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang memprotes pembredelan pers. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan ikut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah pusat kegiatan seni, pemikiran, dan kebebasan informasi. Baginya menulis novel merupakan cara untuk mengeksplorasikan bahasa Indonesia, bahasa yang masih muda, yang kurang mungkin dilakukannya sebagai wartawan.

Saman banyak mendapat perhatian dari ilmuwan terkemuka, diantaranya Sapardi Djoko Damono dan Faruk H. T. Sapardi menganggap komposisi Saman sepanjang pengetahuannya tidak ditemukan di negeri lain, padahal karya-karya Ondaatje, Salman Rushdie, Vikram Seth, Milan Kudera adalah contoh cara bercerita sealiran dengan Saman. Yang menyenangkan adalah bahwa teknik itu, aliran bertutur itu, kini hadir dalam sebuah novel Indonesia.

Menurut Faruk, apa yang dilakukan oleh Ayu adalah keberanian melakukan aksentuasi terhadap sesuatu yang tadinya bermakna tabu. “Ini juga patut dihargai, ia telah mengaksentuasikan sesuatu nilai yang tadinya sangat tabu dikatakan oleh kaum perempuan” (http://www.kompas.com).

Sepengetahuan penulis, novel Saman karya ayu Utami telah dikaji oleh: Sutimah(2001) mahasiswa UNNES berjudul “Gaya Bahasa Novel Saman Karya Ayu Utami: Sebuah Kajian Stilistika” yang memfokuskan pada estetika Saman dan keterkaitan bahasa dengan unsur tema, sudut pandang, latar, dan penokohan. Dengan demikian diperoleh fungsi gaya bahasa dalam Saman. Alur tidak dapat dirunut keberadaannya karena alur yang digunakan dalam Saman sangat variatif. Kevariatifan ini disebabkan oleh pilihan kata yang sangat komplek dan penggunaan kalimat yang banyak mengalami penyimpangan kaidah ketatabahasaan. Ning Ediati (2002) mahasiswa UNNES, berjudul “Tokoh Utama Novel Saman Karya Ayu Utami Tinjauan Psikologis” yang memfokuskan pada penokohan tokoh utama secara fisik dan tipe psikologis yang paling dominan pada tokoh Saman. Sofaningrum (2003) mahasiswa UNNES berjudul “Bentuk-bentuk Penyimpangan Sosial dalam Novel Saman Karya Ayu Utami” yang memfokuskan pada bentuk-bentuk penyimpangan sosial yang memunculkan dalam novel Saman, serta korelasi antara penyimpangan sosial yang terefleksi dalam realita kehidupan.

Dari beberapa penelitian tersebut pada dasarnya novel Saman diteliti dari segi bahasa dan strukturnya saja. Namun dari segi sosiologi khususnya menggunakan teori Strukturalisme Genetik belum pernah ada yang meneliti. Novel Saman karya Ayu Utami sangat menarik dan perlu dikaji, karena novel Saman mempunyai hubungan antara lingkungan sosial saat novel tersebut diciptakan dengan lingkungan sosial pengarang. Oleh karena itu dari pengkajian novel Saman ini dapat diketahui pandangan dunia pengarang.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana struktur novel Saman karya Ayu Utami?

2. Bagaimana lingkungan sosial Ayu Utami?

3. Bagaimana lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami?

4. Bagaimana pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami?

 

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap:

1. struktur novel Saman karya Ayu Utami.

2. lingkungan sosial Ayu Utami.

3. lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami.

4. pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami.

 

1.4 Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan ilmu sastra, khususnya dalam bidang karya sastra yang berbentuk novel, lebih-lebih dalam penerapan teori sastra. Selain itu penelitian novel Saman dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik belum pernah dilakukan, maka secara praktis penelitian ini bermanfaat untuk membantu pembaca dalam memahami novel Saman.

 

BAB II

LANDASAN TEORETIS

2.1 Sosiologi Sastra

Sosiologi adalah telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono 1978: 6). Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat dengan di dalamnya terdapat usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakat ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra (Damono 1978: 6).

Istilah sosiologi sastra pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan pendekatan sosiologis atau sosiokultur terhadap sastra (Damono 1978: 2). Menurut Damono (1978: 2), ada dua kecenderungan utama dalam telaah sosiologis terhadap sastra. Pertama, pendekatan yang berdasarkan anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor luar sastra untuk membicarakan sastra. Kedua, pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian. Metode yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui lebih dalam lagi gejala di luar sastra.

Pendekatan sosiologi bertolak dari asumsi bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan masyarakat, melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut di dalam karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri yang merupakan anggota masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya (Semi 1993: 73).

Lebih lanjut Goldmann mengemukakan bahwa semua aktivitas manusia merupakan respon dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasinya. Sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya (Fananie 2000: 117).

Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra (kesusastraan) merupakan refleksi pada zaman karya sastra (kesusastraan) itu ditulis yaitu masyarakat yang melingkupi penulis, sebab sebagai anggotanya penulis tidak dapat lepas darinya.

Wellek dan Warren (dalam Damono 1978: 3) mengemukakan tiga klasifikasi yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain:

1. Sosiologi pengarang. Masalah yang berkaitan adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi.

2. Sosiologi karya sastra. Masalah yang dibahas mengenai isi karya sastra, tujuan atau amanat, dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan berkaitan dengan masalah sosial.

3. Sosiologi pembaca. Membahas masalah pembaca dan pengaruh sosial karya sastra terhadap pembaca.

Klasifikasi sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren tidak jauh berbeda dengan klasifikasi kajian sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ian Watt. Ian Watt dalam eseinya yang berjudul “Literatur Society” (dalam Damono 1978: 3-4) yang membicarakan hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Pertama, konteks sosial pengarang. Ini ada hubungannya dengan posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, dan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan dan isi karya sastranya. Yang terutama harus diteliti adalah (a) bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung, atau dari kerja rangkap, (b) profesionalisme dalam kepengarangan: sejauh mana pengarang itu menganggap pekerjaannya sebagai profesi, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang dalam hubungan antara pengarang dan masyarakat, sebab masyarakat yang dituju sering mempengaruhi bentuk dan isi karya sastra.

Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat: sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis, yang terutama mendapat perhatian adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, (b) sifat lain dari yang lain seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan penampilan faktor-faktor sosial dalam karyanya, (c) genre sastra merupakan sikap sosial kelompok tertentu, bahkan sikap sosial seluruh masyarakat, (d) sastra berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya, mungkin saja tidak dipercaya sebagai cermin pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra. Hal yang perlu dipertanyakan adalah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial. Pada hubungan ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu sudut pandang ekstrinsik kaum Romantik, sastra bertugas sebagai penghibur adanya kompromi dapat dicapai dengan meninjau slogan klasik bahwa sastra harus menggunakan sesuatu dengan cara menghibur (Damono 1978: 3-4).

Selain itu Laurenson (dalam Fananie 2000: 133) mengemukakan ada tiga perspektif yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain:

1. Perspektif yang memandang sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa satra tersebut diciptakan;

2. Perspektif yang mencerminkan situasi sosial penulisnya;

3. Model yang dipakai karya tersebut sebagai manifestasi dari kondisi sosial budaya atau peristiwa sejarah.

Menurut Wellek dan Warren (1995: 111) hubungan sastra dengan masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan situasi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi, produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan di dalam karya sastra. Kedua, isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga, permasalahan pembaca dan dampak sosial sastra. Menurut Goldmann (Endraswara 2003: 57) karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia pengarang, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Sehingga karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan kejadiannya (unsur genetiknya) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan pandangan dunia pengarang dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldmann merupakan hubungan genetik. Oleh karena itu, muncullah teori yang disebut dengan Strukturalisme Genetik.

Strukturalisme Genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, Strukturalisme Genetik tetap mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar, tetap dianggap penting bagi pemahamah karya sastra (Endraswara 2003: 60).

Dalam skripsi ini digunakan klasifikasi yang kedua dari Wellek dan Warren, yaitu sosiologi karya sastra. Dalam klasifikasi sosiologi karya sastra ini akan dibahas mengenai masalah-masalah sosial dan dalam kaitannya dengan isi karya sastra, tujuan, amanat dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra. Jadi, dalam sosiologi karya sastra yang menjadi pokok bahasan adalah karya sastra itu sendiri. Pendekatan sosiologi karya sastra akan mengkaji karya sastra yang isinya bersifat sosial. Hal ini dikarenakan sastra sebagai hasil seorang pengarang tidak bisa lepas dari kehidupan sosial suatu masyarakat.

 

2.2 Struktur Novel

Menurut Fananie (2000: 83) unsur intrinsik adalah struktur formal karya sastra yang dapat disebut sebagai elemen-elemen atau unsur-unsur yang membentuk karya sastra. Unsur-unsur tersebut secara utuh membangun karya sastra fiksi dari dalam, unsur-unsur intrinsik yang paling pokok terdiri dari: (1) tokoh dan penokohan, (2) latar, (3) alur, dan (4) tema.

(1) Tokoh dan Penokohan

Tokoh cerita (character) menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000: 165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakannya.

Menurut Sayuti (1996: 47) ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh fiksi dibedakan menjadi dua, yakni:

a. Tokoh sentral atau tokoh utama

Tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa atau tokoh yang paling banyak diceritakan. Tokoh sentral atau tokoh utama dapat ditentukan dengan tiga cara, yaitu (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema, (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, dan (3) tokoh itu paling memerlukan waktu penceritaan.

b. Tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan)

Tokoh bawahan merupakan tokoh yang mengambil bagian kecil dalam peristiwa suatu cerita atau tokoh yang sedikit diceritakan.

Penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa: pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto 1982: 31).

Dalam penokohan, dikenal ada dua cara atau metode yang digunakan pengarang untuk menggambarkan tokoh cerita (Sayuti 1996: 57-59) antara lain:

a. Metode diskursif atau metode analitik

Metode ini digunakan pengarang dengan menyebutkan secara langsung masing-masing kualitas tokoh-tokohnya.

b. Metode dramatis atau metode tidak langsung

Metode ini digunakan pengarang dengan memberikan tokoh-tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri. Metode ini dapat dilakukan dari beberapa teknik antara lain: (1) teknik pemberian nama, (2) teknik cakapan, (3) teknik pikiran tokoh, (4) teknik arus kesadaran, (5) teknik lukisan persoalan tokoh, (6) teknik perbuatan tokoh, (7) teknik pandangan seorang atau banyak tokoh terhadap tokoh lain, (8) teknik lukisan fisik, dan (9) teknik pelukisan latar.

(2) Latar

Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000: 216) yang menyebut latar sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Menurut Sayuti (1996: 80), deskripsi latar fiksi secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yakni:

a. Latar tempat

Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu cerita terjadi.

b. Latar waktu

Latar waktu mengacu kepada saat terjadinya peristiwa secara historis dalam plot. Dengan jelasnya saat kejadian akan tergambar pula tujuan fiksi tersebut. Secara jelas pula rangakian peristiwa yang tidak mungkin terjadi terlepas dari perjalanan waktu dapat ditinjau dari jam, hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan zaman tertentu yang melatarbelakanginya.

c. Latar sosial

Latar sosial merupakan lukisan status yang menunjukkan Hakikat seorang atau beberapa orang tokoh di dalam masyarakat yang ada di sekelilingnya.

(3) Alur

Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur, yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat dan utuh (Suharianto 1982: 28).

Menurut Zulfahnur, dkk (1996: 27), berdasarkan fungsinya alur dibagi atas:

a. Alur utama

Alur utama adalah alur yang berisi cerita pokok, dibentuk oleh peristiwa pokok atau utama.

b. Alur bawahan (subplot)

Alur bawahan adalah alur yang berisi kejadian-kejadian kecil menunjang peristiwa-peristiwa pokok, sehingga cerita tambahan tersebut berfungsi sebagai ilustrasi alur utama.

(4) Tema

Tema berasal dari kata “thema” (Inggris) ide menjadi pokok suatu pembicaraan, atau ide pokok suatu tulisan. Tema merupakan omensional yang amat penting dari suatu cerita, karena dengan dasar itu pengarang dapat membayangkan dalam fantasinya bagaimana cerita akan dibangun dan berakhir. Dengan adanya tema pengarang mempunyai pedoman dalam ceritanya pada sasaran. Jadi tema adalah ide sentral yang mendasari suatu cerita (Zulfahnur 1996: 24).

Akhirnya, dapat dikatakan bahwa pendekatan Strukturalisme Genetik mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi, apabila peneliti sendiri tidak melupakan tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memperhatikan faktor-faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi (Jabrohim 1994: 82-83).

 

2.3 Strukturalisme Genetik

Strukturalisme Genetik (genetik structuralism) adalah cabang penelitian sastra secara struktural yang tak murni. Strukturalisme genetik ini merupakan penggabungan antara struktural dengan metode penelitian sebelumnya (Endraswara 2003: 55).

Semula, peletak dasar strukturalisme Genetik adalah Taine. Bagi dia, karya sastra sekedar fakta imajinatif dan pribadi, melainkan dapat merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya dilahirkan. Strukturalisme Genetik muncul sebagai reaksi atas “stukturalisme murni” yang mengabaikan latar belakang sejarah dan latar belakang sastra yang lain. Hal ini diakui pertama kali oleh Juhl (Teeuw 1988: 173) bahwa penafsiran model strukturalisme murni atau strukturalisme klasik kurang berhasil (Endraswara 2003: 55-56).

Dari pandangan ini, tampaknya murid utama George Lukacs, dalam apa yang dikenal sebagai kritik sastra marxis aliran “neo-Hegelian”, Lucien Goldmann, kritikus asal Rumania adalah satu-satunya tokoh yang ikut mengembangkan Strukturalisme Genetik. Goldmann berusaha mengulas struktur sebuah teks sastra dengan tujuan mengetahui sampai sejauh mana teks itu mewujudkan struktur pemikiran (atau “visi dunia”, world vision) dari kelompok atau kelas sosial dari mana pengarang berasal.

Penelitian Strukturalisme Genetik, memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan ini mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi, apabila para peneliti sendiri tidak melupakan atau tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memperhatikan faktor-faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi (Jabrohim 1994: 82).

Pendapat di atas sesuai dengan pendapat Endraswara (2003: 56) yang menyatakan bahwa studi Strukturalisme Genetik memiliki dua kerangka besar. Pertama hubungan antara makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya sastra yang sama, dan kedua hubungan tersebut membentuk suatu jaringan yang saling mengikat.

Strukturalisme Genetik tidak begitu saja dari struktur dan pandangan dunia pengarang. Pandangan dunia pengarang itu sendiri dapat diketahui melalui latar belakang kehidupan pengarang. Hal itulah yang memberikan kekuatan hasil analisis novel dengan pendekatan sosiologi sastra. pendekata sosiologi sastra secara singkatnya adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Pencipta karya sastra adalah anggota masyarakat. Jelaslah bahwa pendekatan sosiologi sastra terutama dengan metode Strukturalisme Genetik sangat erat hubungannya dengan pengarang.

Lebih lanjut Goldmann mengemukakan bahwa semua aktivitas manusia merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasinya. Sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya (Fananie 2000: 117).

Strukturalisme Genetik pada prinsipnya adalah teori sastra yang berkeyakinan bahwa karya sastra tidak semata-mata merupakan suatu yang statis dan lahir yang sendirinya melainkan merupakan hasil strukturasi struktur kategori pikiran subjek penciptanya atau subjek kolektif tertentu yang terbangun akibat interaksi antara subjek itu dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu. Oleh karena itu pemahaman mengenai Strukturalisme Genetik, tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan-pertimbangan faktor-faktor sosial yang melahirkannya, sebab faktor itulah yang memberikan kepaduan pada struktur karya sastra itu (Goldmann dalam Faruk 1999: 13).

Ada dua kelompok karya sastra menurut Goldmann (dalam Jabrohim 1994: 82), yaitu karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang utama dan karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang kelas dua. Karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang utama adalah karya sastra yang strukturnya sebangun dengan struktur kelompok atau kelas sosial tertentu. Sedangkan, karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang kelas dua adalah karya sastra yang isinya sekedar reproduksi segi permukaan realitas dan kesadaran kolektif. Untuk penelitian sastra yang mengungkapkan pendekatan Strukturalisme Genetik oleh Goldmann disarankan menggunakan karya sastra ciptaan pengarang utama, karena sastra yang dihasilkannya merupakan karya agung (master peace) yang di dalamnya mempunyai tokoh problematik (problematic hero) atau mempunyai wira yang memburuk (degraded) dan berusaha mendapatkan nilai yang sahih (autthentic value).

Menurut Goldmann (dalam Endraswara 2003: 57) karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Dengan demikian, dapat ditanyakan bahwa Strukturalisme Genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Keterkaitan pandangan dunia penulis dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldmann merupakan hubungan genetik, karenanya disebut sebagai Strukturalisme Genetik. Pada bagian lain, Goldmann mengemukakan

20 bahwa pandangan dunia merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dengan alam semesta.

Sebagai sebuah analisis Strukturalisme Genetik didasarkan faktor kesejarahan karena tanpa menghubungkan dengan fakta-fakta kesejarahan pada suatu objek kolektif di mana suatu karya diciptakan, tidak seorang pun akan mampu memahami secara komprehensif pandangan dunia atau hakikat dari yang dipelajari (Goldmann dalam Fananie 2000: 120).

Pandangan dunia, yang bagi Goldmann selalu terbayang dalam karya sastra adalah abstraksi. Abstraksi itu akan mencapai bentuknya yang konkret dalam sastra. Oleh karena itu pandangan dunia ini suatu bentuk kesadaran kolektif yang mewakili kelas sosialnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan terjadinya (unsur genetik) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan pandangan dunia penulis dengan ruang dan waktu tertentu tersebut bagi Goldmann merupakan hubungan genetik. Karenanya disebut Strukturalisme Genetik. Dalam kaitannya ini, karya sastra harus dipandang dari asalnya dan kejadiannya (Endraswara 2003: 57).

Atas dasar hal-hal tersebut, Goldmann (dalam Endraswara 2003: 57) memberikan rumusan penelitian Strukturalisme Genetik ke dalam tiga hal, yaitu: (1) penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan; (2) karya sastra yang diteliti mestinya karya sastra yang bernilai sastra yaitu karya yang mengandung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan (a coherent whole); (3) jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Secara sederhana, kerja penelitian Strukturalisme Genetik dapat diformulasikan dalam tiga langkah antara lain:

1. Penelitian bermula dari kajian unsur intrinsik, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhan.

Penelitian Strukturalisme Genetik, memandang karya sastra dari dua sudut pandang yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari bagian unsur intrinsik (kesatuan dan koherensi) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan realitas masyarakat. Karya dipandang sebagai sebuah refleksi zaman, yang dapat mengungkap aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra. Untuk sampai pada World view yang merupakan pandangan dunia pengarang memang bukan perjalanan mudah. Karena itu, Goldman mengisyaratkan bahwa penelitian bukan terletak pada analisis isi, melainkan lebih pada struktur cerita. Dari struktur cerita itu kemudian dicari jaringan yang membentuk kesatuannya. Penekanan pada struktur dengan mengabaikan isi kebenarannya merupakan suatu permasalahan tersendiri, karena hal tersebut dapat mengabaikan hakikat sastra yang merupakan tradisi sendiri (Laurenson dan Swingewood dalam Endraswara 2003: 57-58).

Penelitian sastra yang menggunakan pendekatan Strukturalisme Genetik terlebih dahulu harus memulai langkah yaitu kajian unsur-unsur intrinsik. Dari pengkajian unsur-unsur intrinsik ini akan dapat memunculkan tokoh problematik dalam novel tersebut. Tokoh problematik yang terdapat dalam novel akan memunculkan adanya pandangan dunia pengarang akan dimunculkan melalui tokoh problematik (problematic hero). Tokoh problematik (problematik hero) adalah tokoh yang mempunyai wira bermasalah yang berhadapan dengan kondisi sosial yang memburuk (degraded) dan berusaha mendapatkan nilai yang sahih (authentic value). Melalui tokoh problematik inilah pandangan dunia pengarang akan terlihat dari pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang kepada tokoh problematik dalam usahanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

2. Mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian dari komunitas tertentu.

Sosial budaya terdiri atas dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial berarti berkenaan dengan masyarakat. Budaya adalah keseluruhan hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat. Budaya dapat dikaitkan sebagai warisan yang dipandang sebagai karya yang tersusun secara teratur, terbiasa, dan sesuai dengan tata tertib. Hasil budaya tersebut dapat berupa kemahiran teknik, pikiran, gagasan, kebiasaan-kebiasaan tertentu atau hal-hal yang bersifat kebendaan. Kata kebudayaan mengandung pengertian yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, cara hidup, dan lain-lain. kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat kebudayaan adalah hasil budi, daya kerja akal manusia dalam rangka mencukupi kebutuhan hidupnya. Kebudayaan terbentuk karena adanya manusia, sedang manusia merupakan anggota masyarakat. Simpulan yang diperoleh dari beberapa pengertian sosial budaya di atas adalah segala sesuatu mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh manusia melalui akal budinya sebagai makhluk sosial. Seorang pengarang adalah anggota kelas sosial, maka lewat suatu kelaslah ia berhubungan dengan perubahan sosial dan politik yang besar. Perubahan sosial dan politik itu sendiri adalah ekspresi antagonis kelas, dan jelas mempengaruhi kesadaran kelas (Damono 1978: 42).

Kelas sosial pengarang akan mempengaruhi bentuk karya sastra yang diciptakannya, sebagaimana dikatakan Griff (dalam Faruk 1999: 55) sekolah dan latar belakang keluarga dengan nilai-nilai dan tekanannya mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh sastrawan.

Gejolak batin pengarang menjadi hal yang sangat urgen dalam peristiwa munculnya karya sastra. Sebagai manusia pengarang berusaha mengaktualisasikan dirinya, menaruh minat terhadap masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, hidup, dan kehidupan melalui karya sastra. Meskipun demikian, karya sastra berbeda dengan rumusan sejarah. Dalam sebuah karya sastra, kehidupan yang ditampilkan merupakan peramuan antara pengamatan dunia keseharian dan hasil imajinasi. Jadi, kehidupan dalam sastra merupakan kehidupan yang telah diwarnai oleh pandangan-pandangan pengarang.

Latar belakang sosial budaya pengarang dapat mempengaruhi penciptaan karya-karyanya, karena pada dasarnya sastra mencerminkan keadaan sosial baik secara individual (pengarang) maupun secara kolektif. Hal tersebut menyebabkan secara sadar atau tidak sadar bahwa dalam menciptakan karya sastra baik sedikit ataupun banyak dipengaruhi oleh pemikiran perasaan dan pengalaman hidupnya, salah satunya yaitu bahwa latar belakang sosial budaya pengarang akan mempengaruhi penciptaan karya sastra yang ditulisnya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kehidupan sosial budaya pengarang akan mempengaruhi karya sastra yang ditulis. Karena pengarang merupakan bagian dari komunitas tertentu. Sehingga kehidupan sosial budaya pengarang akan dapat mempengaruhi karya sastranya. Pengarang bukan hanya penyalur dari suatu pandangan dunia kelompok masyarakat, tetapi juga menyalurkan reaksinya terhadap fenomena sosial budaya dan mengeluarkan pikirannya tentang satu peristiwa. Secara singkat, kehidupan sosial budaya pengarang akan memunculkan pandangan dunia pengarang, karena pandangan dunia pengarang terbentuk dari pandangan pengarang setelah ia berintereaksi dengan pandangan kelompok sosial masyarakat pengarang.

3. Mengkaji latar belakang sosial sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang.

Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu (Iswanto dalam Jabrohim 1994: 78).

Karya sastra yang besar menurut Goldman (dalam Fananie 2000: 165) dianggap sebagai fakta sosial dari subjek tran-individual karena merupakan alam semesta dan kelompok manusia. Itulah sebabnya pandangan dunia yang tercermin dalam karya sastra terikat oleh ruang dan waktu yang menyebabkan ia bersifat historis. Johnson (dalam Faruk 1999: 45-46) menyimpulkan bahwa novel mempresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai kehidupan sosial. Dengan demikian, karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk menuliskan kembali kehidupan dalam bentuk cerita.

Bonald (dalam Wellek dan Warren 1995: 110) mengemukakan hubungan antara sastra erat kaitannya dengan masyarakat. Sastra ada hubungan dengan perasaan masyarakat. Sastra mencerminkan dan mengekspresikan kehidupan secara keseluruhan kehidupan zaman tertentu secara nyata dan menyeluruh.

Grabstein (dalam Damono 1984: 4) menyatakan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan yang menghasilkannya. Karya sastra harus dipelajari dalam konteks seluas-luasnya dan tidak hanya menyoroti karya sastra itu sendiri. Setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal balik antara faktor-faktor sosial kultural dan merupakan objek kultural yang rumit.

Latar belakang sejarah, zaman dan sosial masyarakat berpengaruh terhadap proses penciptaan karya sastra, baik dari segi isi maupun bentuknya atau strukturnya. Suatu masyarakat tertentu yang menghidupi pengarang dengan sendirinya akan melahirkan suatu warna karya sastra tertentu pula (Iswanto dalam Jabrohim 1994: 64).

Melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut di dalamnya. Karya sastra memberi pengaruh pada masyarakat, bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup pada suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri merupakan anggota masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya sebagai realitas sosial (Semi 1989: 73).

Semi (1989: 53) menyatakan bahwa karya sastra merupakan suatu fenomena sosial yang terkait dengan penulis, pembaca, dan kehidupan manusia. Karya sastra sebagai fenomena sosial tidak hanya terletak pada segi penciptanya saja, tetapi juga pada hakikat karya sastra itu sendiri. Bahkan dapat dikatakan bahwa reaksi sosial seorang penulis terhadap fenomena sosial yang dihadapinya mendorong ia menulis karya sastra. Oleh karena itu, mempelajari karya sastra berarti mempelajari kehidupan sosial. Hal itu bermakna bahwa kajian karya sastra terkait dengan kajian manusia, kajian tentang kehidupan.

Untuk lebih jelasnya, dalam melakukan penelitian dengan menggunakan metode Strukturalisme Genetik dapat kita ikuti langkah-langkah yang ditawarkan oleh Laurensin dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman (dalam Jabrohim 2001: 64-65). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Peneliti sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula sastra diteliti strukturnya untuk membuktikan jaringan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik.

b. Penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang berhubungan dengan pandangan dunia pengarang.

c. Untuk mencapai solusi atau kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu metode pencarian kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik untuk selanjutnya mencapai premis general.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan ini dapat dilakukan dari pemahaman bahwa karya sastra diciptakan tidak hanya dari imajinasi dan pribadi pengarang, tetapi juga dari peristiwa yang terjadi dalam masyarakat sehingga karya sastra dapat dikatakan sebagai cermin rekaman budaya masyarakat. Pemahaman dapat dibuktikan dengan mengunakan teori Strukturalisme Genetik. Karena Strukturalisme Genetik tidak hanya memandang karya sastra berdasarkan unsur intrinsik saja tetapi juga unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik dari sebuah novel diperoleh dari peristiwa sosial masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra.

Berdasarkan uraian di atas maka pendekatan dalam penelitian ini menggunakan sosiologi dalam sastra, merupakan pendekatan terhadap karya sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan yang terdapat dalam karya sastra. Pendekatan sosiologis digunakan dalam menganalisis novel Saman, karena karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dengan lingkungan atau zaman pada saat novel ditulis.

3.2 Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian dalam skripsi ini adalah struktur novel Saman, lingkungan sosial pengarang, lingkungan sosial novel, dan pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami, yang diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta pada tahun 1998.

3.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian skripsi ini yaitu dengan menggunakan model dialektik. Secara sederhana, pelaksanaan analisis dialektik diawali dengan mengkaji unsur intrinsik novel dalam jalinan keseluruhannya, kemudian megkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena pengarang merupakan bagian dari komunitas tertentu, kemudian mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang (Endraswara 2003: 62).

Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Membaca novel Saman karya Ayu Utami secara berulang-ulang dari awal sampai akhir cerita.

2. Mengkaji struktur novel Saman karya Ayu Utami.

3. Mengkaji lingkungan sosial Ayu Utami.

4. Mengkaji lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami.

5. Menghubungkan antara struktur novel Saman karya Ayu Utami, lingkungan sosial Ayu Utami, dan lingkungan sosial novel Saman karya Ayu Utami. Dari proses tersebut diperoleh pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman melalui tokoh problematik yang ada dalam novel tersebut.

6. Menarik simpulan dari permasalahan yang telah dikaji dalam novel Saman karya Ayu Utami.

3.4 Teknik Pengunpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca, yaitu membaca tingkat pertama dan membaca tingkat kedua. Teknik membaca tingkat pertama yaitu menganalisis karya sastra itu dengan memahami dan mengungkap sesuatu yang terdapat dalam karya sastra. Sedangkan pembacaan tingkat kedua, yaitu menganalisis karya sastra untuk mengetahui sejauh mana pandangan dunia pengarang dalam novel Saman diterapkan dalam karya sastra. Hal ini berkaitan dengan jenis perspektif Sosiologi pengarang dengan kondisi lingkungan pada saat novel tersebut diciptakan yang ditonjolkan dalam karya. Pembacaan tingkat ini menggunakan pendekatan sosilogi sastra.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Apa Siapa. 2003. http://www.pdart.co.id (19 Mei 2005).

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Ayu Utami, Apa Arti Istilah Parasit Lajang?. 2003. http://nizamzakaria.diaryland.com (12 April 2005).

Ayu Utami, Saya Tidak Akan Menikah. 2004. http:cyberment.cbn.net.id (12 April 2005).

Ayu Utami Tak Mampir di Kedai. http://www. pantau.or.id (29 Agustus 2004).

Bayang-bayang Perempuan Pengarang. http://www.kompas.com (28 Agustus 2004).

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Depdikbud.

Dari Jaman Siti Nurbaya Sampai Jaman Shakuntala. 2001. http://www.glen.hcl.unimelb.edu.au (29 Agustus 2004).

Ediati, Ning. 2002. Tokoh Utama Novel Saman Karya Ayu Utami. Skripsi. Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Endraswara, Suwardi: 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta. Muhammadiyah University Press.

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hardjana, Andre. 1985. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

In Bed With Ayu Utami. 2003. http://randurini.blogspot.com (12 April 2005).

Jabrohim. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s