Ketidakadilan Gender (Bagian II)


a.  Gender dan Marginalisasi Perempuan

Bentuk manifestasi ketidakadilan gender adalah proses marginalisasi atau pemiskinan terhadap kaum perempuan. Ada beberapa mekanisme proses marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender. Dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, tetapi juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat bahkan negara.

b.  Gender dan Subordinasi

Subordinasi adalah sebuah anggapan tidak penting dalam keputusan politik. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional, sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin dan berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Perempuan diidentikkan dengan jenis-jenis pekerjaan tertentu. Bentuk subordinasi terhadap perempuan yang menonjol adalah bahwa semua pekerjaan yang dikategorikan sebagai reproduksi dianggap lebih rendah dan menjadi subordinasi dari pekerjaan produksi yang dikuasai kaum lelaki (Sugiarti 2002:16-17).

c.  Gender Streotipi

Salah satu pangkal ketidakadilan terhadap perempuan bermuara dari stereotip yang cenderung merendahkan, yang ditujukan pada perempuan. Pandangan ini sering berpangkal dan mendapat pembenaran dari tradisi budaya dan pemahaman keagamaan yang hidup dalam masyarakat (Fayumi dkk 2001: 82).

Menurut La Pona dkk (2002:71) stereotype adalah konsep yang berkaitan dengan konsep peran, tetapi berbeda. Stereotype dapat dilukiskan sebagai gambaran dalam kepala kita dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok.

Stereotipi adalah pelabelan terhadap suatu kelompok atau jenis pekerjaan tertentu. Stereotipi merupakan bentuk ketidakadilan. Secara umum stereotipi merupakan pelabelan, ini selalu berakibat pada ketidakadilan, sehingga dinamakan pelabelan negatif. Hal ini disebabkan pelabelan yang sudah melekat pada laki-laki, misalnya laki-laki adalah manusia kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Kenyataannya perempuan adalah makhluk yang lembut, cantik, emosional, atau keibuan.

Dengan adanya pelabelan tersebut tentu saja akan muncul banyak stereotip yang oleh masyarakat termanifestasikan sebagai hasil hubungan sosial tentang perbedaan lelaki dan perempuan. Oleh karena itu, perempuan identik dengan pekerjaan-pekerjaan di rumah, maka peluang perempuan untuk bekerja di luar rumah sangat terbatas, bahkan ada juga yang berpendidikan tidak pernah menerapkan pendidikannya untuk mengaktualisasikan diri. Akibat adanya stereotipi (pelabelan) ini banyak tindakan yang seolah-olah sudah merupakan kodrat. Misalnya: karena secara sosial budaya laki-laki dikonstruksikan sebagai kaum yang kuat, maka laki-laki mulai kecil biasanya terbiasa atau berlatih untuk menjadi kuat. Perempuan yang sudah terlanjur mempunyai label lemah lembut, maka perlakuan orang tua mendidik anak seolah-olah memang mengarahkan untuk terbentuknya perempuan yang lemah lembut (Sugiarti 2002:17-18).

d.  Gender dan Kekerasan terhadap Perempuan

Kekerasan (violence) adalah suatu serangan (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap manusia ini sumbernya macam-macam, namun ada salah satu jenis kekerasan yang bersumber anggapan gender. Kekerasan ini disebut sebagai “gender-related violence”, yang pada dasarnya disebabkan oleh kekerasan. Gender-related violence ini merupakan berbagai macam bentuk kejahatan yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan gender, yang dilakukan baik ditingkat rumah tangga sampai-sampai di tingkat negara, bahkan tafsiran agama (Sugiarti 2002:18).

Jika diperhatikan, kekerasan yang terjadi pada perempuan merupakan kekerasan yang disebabkan adanya keyakinan gender. Bentuk kekerasan ini terjadi antara laki-laki terhadap perempuan, antara perempuan dengan perempuan atau bahkan antara perempuan dengan laki-laki. Meskipun demikian perempuan menjadi lebih rentan karena posisinya yang pincang di mata masyarakat baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Posisi perempuan pada umumnya dianggap lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Kekerasan terhadap perempuan sering terjadi karena budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan. Kekerasan digunakan oleh laki-laki untuk memenangkan perbedaan pendapat, untuk menyatakan rasa tidak puas, dan sering hanya untuk menunjukkan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Pada dasarnya kekerasan yang berbasis gender adalah refleksi dari sistem patriarkhi yang berkembang di masyarakat (Sugiarti 2002:19).

e.  Gender dan Beban Kerja

Adanya anggapan bahwa kaum perempuan bersifat memelihara, rajin, dan tidak akan menjadi kepala rumah tangga, maka akibatnya semua pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab kaum perempuan, sehingga perempuan menerima beban lebih banyak, selain harus bekerja membantu mencari nafkah. Bagi golongan kelas atas, beban kerja ini kemudian dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga (domestic workers). Mereka inilah yang sesungguhnya menjadi korban dari bias gender di masyarakat. Mereka bekerja berat, tanpa perlindungan dan kebijakan negara. Selain tanpa perlindungan hubungan mereka bersifat feodalistik dan pembudakan, serta masalahnya belum bisa secara transparan dilihat oleh masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s